peluncuran Naval Strike Missile (NSM) dari kapal perang kelas frigate milik Angkatan Laut Norwegia. RAYTHEON

Norwegia dilaporkan menyampaikan permintaan maaf kepada Malaysia atas pembatalan izin ekspor sistem Rudal Serang Angkatan Laut atau Naval Strike Missile (NSM), namun tetap mempertahankan keputusan tersebut. 

Hal ini disampaikan Menteri Pertahanan Malaysia Mohamed Khaled Nordin usai pertemuan bilateral dengan mitranya dari Norwegia, Tore O. Sandvik, di sela-sela Dialog Shangri-La di Singapura, akhir pekan lalu.

"Saya bertemu dengan mitra saya dari Norwegia dan dia menyampaikan permintaan maafnya, tetapi juga menjelaskan dasar pembatalan tersebut," kata Khaled seperti dikutip Malay Mail.

Kabar ini muncul beberapa hari setelah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengkritik keras keputusan Oslo. Anwar memperingatkan bahwa pembatalan itu dapat mengganggu kesiapan pertahanan Malaysia secara signifikan sekaligus mengubah dinamika keamanan regional yang lebih luas. Malaysia telah membayar lebih dari 95% nilai kontrak tahun 2018 tersebut sebelum pembatalan dilakukan. 

Setidaknya terdapat tiga alasan utama yang melatarbelakangi keputusan Norwegia membatalkan penjualan rudal NSM kepada Malaysia.

Pertama, alasan keamanan nasional. Norwegia membenarkan langkah ini dengan mengutip pertimbangan keamanan nasional, sebuah alasan yang oleh Anwar disebut "sepihak dan tidak dapat diterima." Perselisihan ini berpusat pada akuisisi sistem rudal anti-kapal NSM oleh Malaysia sebagai bagian dari program modernisasi Kapal Tempur Pesisir atau Littoral Combat Ship, komponen kunci dari strategi angkatan laut jangka panjang Kuala Lumpur.

Kedua, kebijakan ekspor hanya untuk sekutu terdekat. Kementerian Luar Negeri Norwegia menyatakan bahwa ekspor beberapa teknologi pertahanan paling sensitif milik Oslo kini akan dibatasi hanya untuk sekutu dan mitra terdekatnya. Pembatasan baru ini dilaporkan membatasi ekspor NSM hanya untuk anggota NATO dan negara-negara mitra NATO, kategori yang tidak mencakup Malaysia.

Ketiga, kecanggihan teknologi rudal itu sendiri. Malaysia menyepakati kontrak senilai sekitar US$145 juta dengan Kongsberg Defence and Aerospace pada 2018 untuk pengadaan NSM bagi enam kapal tempur pesisir kelas Maharaja Lela. 

Pada 2025, Kuala Lumpur juga menyetujui kontrak tambahan senilai 11,19 juta dolar AS untuk peluncur NSM yang akan dipasang pada dua fregat kelas Lekiu milik Angkatan Laut Diraja Malaysia. 

NSM sendiri merupakan rudal subsonik buatan Kongsberg yang mampu menyerang target di laut maupun darat, dilengkapi kemampuan terbang rendah di atas permukaan laut serta sistem Pengenalan Target Otonom.

Pembatalan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum jadwal pengiriman rudal tersebut untuk lima kapal tempur pesisir Angkatan Laut Diraja Malaysia, sehingga memaksa Kementerian Pertahanan dan Angkatan Laut untuk mencari rudal pengganti. Malaysia bahkan dikabarkan menuntut kompensasi atas kerugian akibat batalnya kesepakatan bersejarah ini.