Bendera Israel dikibarkan di Kastil Beaufort, terlihat dari Marjayoun, Lebanon selatan, 31 Mei 2026. REUTERS/STRINGERS

Prancis mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar sidang darurat setelah pasukan Israel merebut Benteng Beaufort di Lebanon selatan, sebuah situs bersejarah peninggalan era Perang Salib yang berdiri di atas bukit dengan pemandangan Sungai Litani.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengumumkan permintaan itu pada Minggu. Ia mengakui hak Israel untuk membela diri, tapi menilai operasi militer yang kian meluas tidak bisa dibenarkan. "Tidak ada yang dapat membenarkan berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon dan pendudukan yang semakin dalam atas wilayah Lebanon," ujar Barrot kepada BFMTV.

Tentara Israel beroperasi di Beaufort Ridge di Lebanon selatan, dalam gambar selebaran ini yang dirilis pada 31 Mei 2026. | IDF

Militer Israel mengonfirmasi telah melancarkan serangan berskala besar di kawasan Pegunungan Beaufort dan Wadi al-Salouqi, melibatkan pasukan darat dalam jumlah besar selama beberapa hari terakhir. Benteng berusia 900 tahun itu kini telah dikibarkan bendera Israel dan bendera Brigade Golani di atasnya.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut penaklukan itu sebagai pencapaian bersejarah. "Kami telah meruntuhkan tembok ketakutan," kata Netanyahu, menyebutnya sebagai tahap yang dramatis dalam kebijakan yang sedang dijalankan Israel.

Bendera Israel dikibarkan di Kastil Beaufort, terlihat dari Marjayoun, Lebanon selatan, 31 Mei 2026. REUTERS/STRINGER

Perebutan Beaufort menandai penetrasi Israel paling jauh ke wilayah Lebanon sejak 1982. Pasukan Israel menyeberangi Sungai Litani pada Jumat, pertama kalinya sejak 2006. Menteri Pertahanan Israel Katz membenarkan bahwa operasi telah meluas ke utara sungai dan kini berlangsung di dekat Nabatieh, kota terbesar kelima di Lebanon.

Seiring perluasan operasi, IDF mengeluarkan perintah evakuasi baru pada Minggu, meminta seluruh warga di selatan Sungai Zahrani untuk segera meninggalkan wilayah tersebut. Al Jazeera melaporkan Israel telah mengeluarkan lebih dari sepuluh perintah pengungsian dalam sehari dan menetapkan zona larangan sipil yang mencakup sekitar seperlima wilayah Lebanon.

Operasi ini berlangsung meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak 17 April dan diperpanjang selama 45 hari mulai 17 Mei, menyusul pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel sejak awal Maret telah menewaskan lebih dari 3.370 orang.

Perdana Menteri Lebanon menyebut serangan itu sebagai hukuman kolektif. Pejabat Israel dan Lebanon sebelumnya bertemu di Pentagon pada Jumat untuk membahas pelaksanaan gencatan senjata, dengan pembicaraan lanjutan dijadwalkan pekan depan.