Chengdu J-10CE, jet tempur multiperan generasi 4,5 buatan China yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Pakistan. | WIKIPEDIA

Kementerian Pertahanan mengambil langkah agresif dengan melipatgandakan pesanan jet tempur J-10C buatan China. Keputusan ini memantik babak baru dalam upaya percepatan modernisasi alat utama sistem persenjataan TNI Angkatan Udara, terutama untuk mengimbangi kehadiran armada jet tempur generasi kelima milik negara-negara tetangga di kawasan.

Rencana pengadaan yang pertama kali diungkap ke publik pada 16 Oktober 2025 ini didesain untuk mendongkrak daya gempur udara nasional secara signifikan. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebut manuver pembelian ini tidak berdiri sendiri. "Langkah ini merupakan bagian dari program modernisasi pertahanan yang lebih luas," jelas Sjafrie.

Pilihan alutsista jatuh ke Beijing setelah Jakarta sempat membatalkan pengadaan jet tempur Su-35 dari Rusia akibat bayang-bayang ancaman sanksi dari Amerika Serikat. Guna mengantisipasi tekanan politik serupa yang kerap menjadi hambatan utama ekspor senjata China, pemerintah sejak awal dekade ini perlahan membangun ketahanan ekonomi nasional dengan memangkas ketergantungan pada sistem pembayaran Barat.

J-10C sendiri dirancang sebagai jet tempur ringan bermesin tunggal yang menerapkan konsep operasi high-low mix bersama armada jet tempur berat bermesin ganda J-11 dan J-16. Meski berstatus generasi 4+, varian ini sarat akan teknologi turunan dari pesawat siluman generasi kelima J-20. Deretan pembaruan tersebut mencakup penggunaan material komposit canggih, radar Active Electronically Scanned Array (AESA), serta integrasi rudal udara-ke-udara jarak dekat PL-10 dan jarak jauh PL-15.

Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) mencatat pesawat ini mampu meladeni jet tempur generasi kelima secara efektif dalam berbagai simulasi militer.

Ketangguhan taktis J-10C juga terekam jelas di arena internasional. Mengutip laporan Military Watch Magazine, jet tempur ini baru saja mendulang kemenangan telak saat dioperasikan Angkatan Udara Pakistan melawan jet tempur Rafale India dalam bentrok udara pada Mei 2025. Peristiwa tersebut menjadi ujian tempur berintensitas tinggi pertama bagi platform J-10C.

Jauh sebelumnya, pesawat yang sama juga tampil mendominasi simulasi pertempuran udara melawan Eurofighter Typhoon milik Qatar dalam latihan militer Zilzal-II pada Januari 2024. Rentetan rekor tempur ini mempertegas tantangan besar yang membayangi program jet tempur Eropa saat harus bersaing dengan produk mutakhir AS maupun China.

Bagi Beijing, kesepakatan dengan Jakarta mencetak terobosan perdana untuk ekspor jet tempurnya ke pasar Asia Tenggara. Secara global, Indonesia resmi duduk sebagai pelanggan kedua J-10C setelah Pakistan. Sempat muncul laporan mengenai pesanan dari Mesir, sementara Sudan disebut-sebut sebagai pelanggan pertama sebelum pemerintahan negara itu tumbang lewat kudeta sokongan Barat pada 2019.

Pamor industri kedirgantaraan militer China melesat tajam dalam satu dekade terakhir. Usai menjadi negara kedua di dunia yang mengoperasikan jet tempur generasi kelima lewat J-20 pada 2017, Beijing kembali mencuri start sebagai pionir peluncuran prototipe pesawat tempur generasi keenam pada Desember 2024. 

Lompatan ini memosisikan China sebagai kandidat kuat pemimpin teknologi pesawat tempur generasi keenam hingga satu dekade ke depan, sekaligus mengerek permintaan global terhadap produk pertahanannya.

Terkait kapabilitas jangka panjang platform ini, perancang utama J-10C, Li Jun, memastikan jet tempur tersebut tidak akan usang dalam waktu dekat. Pada awal Mei lalu, ia menyatakan bahwa struktur pesawat masih menyisakan ruang pembaruan yang masif. 

"Pesawat tersebut diperkirakan tetap relevan selama dua hingga tiga dekade ke depan," tuturnya.