![]() |
| Tabel periodik dengan fokus pada elemen Gallium (Ga) dan Germanium (Ge), yang dipadukan dengan latar belakang bendera Tiongkok. | CLAUDE |
China kembali membuka keran ekspor logam strategis galium ke Jepang usai pengiriman tertahan selama empat bulan. Langkah ini memberi sinyal mulai melunaknya pembatasan perdagangan sejumlah material vital yang menopang industri semikonduktor, telekomunikasi, hingga kendaraan listrik dunia.
Mengacu pada Data Bea Cukai China bulan Mei 2026, volume pengiriman galium ke Negeri Sakura menyentuh angka 6.000 kilogram.
Jepang tercatat sebagai pembeli tunggal untuk komoditas tersebut sepanjang periode itu. Pengiriman ini memutus kebuntuan sejak awal tahun, ketika Beijing menyetop total suplai galium sekaligus germanium ke Jepang. Sampai hari ini, pasokan germanium tak kunjung mengalir kembali.
Kembalinya suplai galium menjadi sinyal positif bagi industri teknologi global yang masih amat bergantung pada dominasi material strategis China. Galium dan germanium memegang peran sentral dalam memproduksi cip semikonduktor, serat optik, teknologi energi terbarukan, hingga komponen pengisian daya cepat kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Persaingan ketat dalam rantai pasok teknologi ini juga sempat memantik kecurigaan Amerika Serikat (AS) terkait keberadaan mesin pencetak cip ASML di China, padahal larangan ekspor mesin tersebut sedang berlaku ketat.
Membedah motif pembukaan kembali ekspor ini, Analis Senior Economist Intelligence Unit (EIU) Xu Tianchen menilai langkah Beijing murni menyasar kebutuhan komersial biasa.
Melansir South China Morning Post edisi 20 Juni 2026, ia menyoroti hubungan diplomatik China dan Jepang yang belum menunjukkan perbaikan signifikan, sehingga izin penggunaan berbau militer diyakini masih tertutup rapat.
"Galium memiliki peran penting dalam industri kendaraan listrik dan peralatan telekomunikasi sehingga kebutuhan sektor sipil menjadi alasan paling memungkinkan atas dimulainya kembali ekspor tersebut," ujar Xu.
Pelonggaran ekspor rupanya tidak sebatas pada galium. Lonjakan pengiriman juga terlihat pada magnet permanen berbasis unsur tanah jarang (rare earth). Sepanjang Mei lalu, volume pasokan dari China ke Jepang meroket 380% secara tahunan, meski secara bulanan mengalami koreksi 35%.
Tren agresif serupa terjadi di pasar global. Ekspor magnet tanah jarang China melompat 282% dibanding tahun sebelumnya. Uni Eropa menyerap porsi terbesar hingga hampir 40% dari total pengiriman, disusul lonjakan permintaan yang juga signifikan dari AS. Volume bulan Mei memang turun tipis 8% dari April, namun hal tersebut masih berada dalam batas fluktuasi pasar yang wajar.
Pengetatan kendali ekspor unsur tanah jarang dan magnet permanen sebelumnya ditarik oleh pemerintah China sebagai manuver balasan terhadap kebijakan tarif AS.
Seiring berjalannya waktu, Beijing perlahan mengendurkan aturan main dengan mengevaluasi ulang perizinan ekspor khusus sipil, kendati pengiriman untuk material yang memiliki celah penggunaan militer tetap dibatasi ketat.
0Komentar