Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Raffael Grossi, berbicara kepada media pada hari pembukaan pertemuan triwulanan Dewan Gubernur lembaganya di Wina, Austria, 8 Juni 2026. Foto diambil pada 8 Juni 2026. REUTERS/Elisabeth Mandl.

Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) resmi mengesahkan resolusi baru yang mendesak Iran segera membuka transparansi penuh atas stok uranium diperkayanya. Keputusan dalam pertemuan dewan gubernur (Board of Governors) di Wina, Austria, Rabu (10/6), memantik babak baru ketegangan setelah satu tahun penuh tim pengawas internasional buta terhadap kondisi fasilitas nuklir Teheran.

Draf yang dirancang oleh Amerika Serikat serta mendapat sokongan dari Inggris, Prancis, dan Jerman ini meluncur dalam pertemuan kuartalan dewan yang bergulir sejak 8 Juni lalu. 

Blok Barat menuntut Teheran menyerahkan "informasi akurat mengenai akuntansi material nuklir dan fasilitas nuklir yang dijamin keamanannya," sekaligus membuka semua akses yang diperlukan untuk memverifikasi informasi tersebut. Dewan menyebut kedua langkah ini sebagai hal yang "esensial dan mendesak."

Kebuntuan ini berakar dari konflik kilat 12 hari pada Juni 2025. Saat itu, gempuran militer AS dan Israel menghancurkan serta merusak sejumlah instalasi nuklir utama Iran. Sejak agresi tersebut, para inspektur IAEA kehilangan akses pemantauan sama sekali.

Padahal, berdasarkan laporan Reuters, Iran menguasai sekitar 440,9 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga tingkat kemurnian 60%. Jika diproses lebih lanjut, pasokan ini lebih dari cukup untuk merakit sepuluh hulu ledak nuklir. Hingga kini, komunitas internasional tidak tahu pasti apakah cadangan sensitif itu masih utuh atau sudah dipindahkan.

Sebuah laporan rahasia IAEA pada Februari 2026 sempat mendeteksi bahwa sebagian besar uranium tersebut disimpan di dalam kompleks terowongan bawah tanah di Isfahan—wilayah yang tampaknya selamat dari serangan udara tahun lalu. 

Melihat situasi yang kian abu-abu, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi awal pekan ini mendesak Iran untuk "kembali terlibat" demi memulihkan jalur inspeksi.

Hubungan Teheran dan IAEA sebenarnya sempat mencair ketika Grossi dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mencapai kesepakatan di Kairo pada September 2025 untuk melanjutkan pengawasan. Namun, komitmen itu layu sebelum berkembang. Pemicunya adalah resolusi terpisah pada November 2025 yang lolos dengan 19 suara mendukung, tiga menolak, dan 11 abstain.

Araghchi kala itu langsung menyatakan bahwa kesepakatan Kairo telah "dibunuh" oleh AS dan kekuatan-kekuatan Eropa, sebelum akhirnya melayangkan surat penghentian kerja sama resmi kepada Grossi.

Respons keras kini kembali datang dari perwakilan diplomasi Iran. Misi Iran untuk IAEA mengecam keputusan terbaru dewan yang digagas Washington sebagai bentuk pembenaran atas agresi. 

Sinyal kuat ini mengindikasikan Teheran kemungkinan besar bakal mengabaikan tuntutan tersebut, sekaligus meninggalkan dunia tanpa mekanisme verifikasi yang berfungsi pada salah satu aset nuklir paling krusial di dunia.