![]() |
| Pemandangan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz pascagencatan senjata sementara dua pekan, terlihat di Oman pada 8 April 2026. | ANADOLU AGRNCY |
Kelompok Houthi di Yaman resmi memberlakukan blokade total terhadap seluruh kapal yang berafiliasi dengan Israel di kawasan Laut Merah. Langkah maritim ini diumumkan tak lama setelah kelompok tersebut meluncurkan serangan rudal ke wilayah Jaffa, yang diklaim mengenai sasaran sensitif musuh secara presisi.
Pengumuman blokade ini bertepatan dengan eskalasi bersenjata yang kembali pecah antara Israel dan Iran. Kedua negara tersebut saling melempar serangan udara pada Senin dini hari, yang sekaligus menyudahi masa gencatan senjata yang sempat disepakati pada 8 April lalu.
Laporan dari Associated Press menyebutkan militer Israel menggempur fasilitas petrokimia di Provinsi Khuzestan, wilayah tengah dan barat Iran, yang kemudian langsung memantik respons balasan dari Garda Revolusi Iran.
Situasi panas di daratan tersebut langsung direspons Houthi dengan menutup akses koridor maritim bagi sekutu Israel. Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menegaskan bahwa seluruh pergerakan kapal yang memiliki keterikatan dengan Israel kini menyandang status sebagai target militer.
"Kami mengumumkan larangan penuh dan menyeluruh terhadap navigasi maritim musuh Israel di Laut Merah, dan kami menganggap semua pergerakan musuh sebagai target militer bagi angkatan bersenjata kami sejak saat pengumuman pernyataan ini dibacakan," ujar Yahya Saree sebagaimana dikutip dari Middle East Eye.
Blokade ini merusak stabilitas Selat Bab el-Mandeb yang baru saja membaik dalam beberapa bulan terakhir. Selat strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden ini memegang peran krusial karena mengalihkan sekitar 12% dari total volume perdagangan global.
Data Administrasi Maritim Amerika Serikat menunjukkan Houthi sempat melancarkan lebih dari 100 serangan ke kapal dagang sepanjang November 2023 hingga Oktober 2025, sebelum akhirnya melandai menyusul gencatan senjata di Jalur Gaza.
Sebelum blokade terbaru ini diumumkan, para pelaku industri pelayaran komersial sebenarnya sudah mulai berani kembali memasuki koridor Suez seiring dengan turunnya premi asuransi dari level tertinggi saat krisis. Namun, langkah unilateral Houthi kali ini berpotensi membalikkan keadaan.
Dalam pernyataan resminya, Houthi membingkai operasi militer ini sebagai bentuk perlawanan kolektif bersama kelompok eksternal lainnya. Mereka menyebut langkah ini diambil untuk merespons agresi Amerika Serikat-Zionis terhadap Iran, Palestina, Lebanon, Irak, dan Yaman.
Kelompok ini juga memperingatkan bahwa intensitas serangan mereka akan terus menyesuaikan dinamika di lapangan.
"Kami akan menghadapi eskalasi dengan eskalasi dan operasi militer kami akan terus meningkat seiring dengan perkembangan situasi, pertempuran, dan keikutsertaan bersama poros perlawanan," tambah pihak Houthi dalam pernyataan tertulisnya.
Ancaman penutupan jalur maritim ini sebelumnya telah diprediksi oleh lembaga kajian keamanan Soufan Center pada Maret 2026. Analisis lembaga tersebut memperingatkan bahwa keterlibatan aktif Houthi dalam konflik Iran-Israel berpotensi memperparah guncangan ekonomi global, terutama jika hambatan di Bab el-Mandeb terjadi bersamaan dengan gangguan di Selat Hormuz.
0Komentar