![]() |
| Foto udara dari Diego Garcia, sebuah atol karang yang terletak di Samudra Hindia. | U.S. DEPARTEMENT OF DEFENSE |
Pemerintah Amerika Serikat tengah mengkaji rencana untuk membeli Kepulauan Chagos langsung dari Mauritius. Langkah sepihak ini berpotensi menjegal kesepakatan kedaulatan yang sedang dirancang antara Inggris dan Mauritius atas wilayah strategis di Samudra Hindia tersebut.
Melalui proposal yang disusun para pejabat Gedung Putih, Washington berpeluang membuka negosiasi langsung tanpa melibatkan London. Target utamanya adalah mengamankan kendali penuh atas Diego Garcia, pulau terbesar di kepulauan tersebut yang menjadi pangkalan militer bersama AS-Inggris untuk operasi angkatan laut dan pesawat pengebom.
Laporan The Telegraph menyebutkan bahwa draf ini menjadi satu dari beberapa opsi alternatif yang disiapkan Gedung Putih untuk disodorkan kepada Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Hingga kini, baik Gedung Putih maupun Kantor Luar Negeri Inggris belum memberikan komentar resmi.
Rencana pembelian ini mencuat setelah kesepakatan awal antara Inggris dan Mauritius macet. Pada Mei 2025, kedua negara sebenarnya telah menandatangani perjanjian penyerahan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius. Skemanya, Inggris akan menyewa kembali Diego Garcia selama 99 tahun dengan biaya tahunan rata-rata £101 juta.
Namun, dinamika politik di Washington mengubah arah kebijakan. "Tindakan kebodohan luar biasa," ujar Presiden AS Donald Trump saat mengkritik tajam perjanjian tersebut pada hari pelantikannya Januari lalu. Tanpa dukungan politik dari AS, pemerintah Inggris akhirnya menghentikan pembahasan rancangan undang-undang terkait di Parlemen pada April lalu.
Kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh sejumlah anggota Kongres AS dan lembaga pemikir konservatif. Mereka menilai penyerahan kedaulatan kepada Mauritius dapat memantik perluasan pengaruh China di Samudra Hindia, mengingat Beijing gencar menanamkan investasi besar di negara tersebut.
Selama berdekade-dekade, Diego Garcia telah menjadi titik krusial bagi proyeksi kekuatan militer AS hingga ke kawasan Timur Tengah.
Pendekatan transaksional ini dinilai memperlihatkan kembali gaya diplomasi berbasis penguasaan aset, yang lekat dengan latar belakang Trump sebagai pengusaha properti. Sebelumnya, Trump juga pernah mewacanakan akuisisi Greenland dari Denmark serta Terusan Panama.
Gagasan tersebut merupakan "peninggalan era diplomasi yang lebih tua" yang kini dihidupkan kembali, tulis The Telegraph. Bahkan, pada Januari lalu, Trump secara terbuka menyebut mandeknya kesepakatan Chagos sebagai momentum untuk kembali mengejar pembelian Greenland.
Sejauh ini belum ada kepastian apakah Mauritius bersedia menjual wilayahnya. Departemen Luar Negeri AS sendiri telah menggelar diskusi keamanan bilateral dengan Mauritius pada Februari lalu untuk menekankan pentingnya peran kepulauan tersebut bagi keamanan nasional AS.
Bagi para pemimpin Mauritius, pengembalian wilayah ini memiliki makna historis yang besar. "Proses dekolonisasi secara menyeluruh," tutur para pemimpin Mauritius saat membingkai transfer kedaulatan tersebut.
0Komentar