Uji coba pembakaran statis roket Long March 12B di Zona Uji Inovasi Antariksa Komersial Dongfeng di pelabuhan antariksa Jiuquan, 16 Januari 2026. | CASC

Tiongkok menerbangkan roket terbarunya, Long March 12B, untuk pertama kalinya dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Gurun Gobi pada Senin (8/6). Peluncuran ini langsung menyita perhatian karena berlangsung tanpa adanya peringatan penutupan wilayah udara dan maritim, sebuah prosedur standar yang lazim mendahului misi antariksa komersial maupun pemerintah.

Meluncur pada pukul 04.40 waktu EDT, roket berpelumas bahan bakar kerosen dan oksigen cair ini mengangkut 18 satelit ke orbit polar. Satelit-satelit tersebut merupakan bagian dari Qianfan, konstelasi internet orbit rendah yang juga dikenal sebagai SpaceSail. Jaringan raksasa ini sengaja dibangun Beijing untuk menandingi dominasi layanan Starlink milik SpaceX asal Amerika Serikat (AS).

Mengutip laporan SpaceNews, kabar peluncuran ini justru pertama kali menyebar luas di platform media sosial Tiongkok akibat absennya pemberitahuan resmi. Meski diwarnai anomali prosedur peringatan dini, China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) selaku pengembang memastikan misi tersebut berjalan sesuai rencana.

Secara teknis, kemampuan Long March 12B dirancang sejajar dengan Falcon 9 milik SpaceX. Roket ini mampu membawa muatan hingga 20.000 kilogram ke orbit rendah Bumi dalam mode sekali pakai. Tahap pertama roket sebenarnya dibuat agar dapat digunakan kembali (reusable) lewat pendaratan propulsif di sebuah fasilitas darat di Provinsi Gansu. Namun, otoritas antariksa Tiongkok tidak melakukan upaya pemulihan roket pada penerbangan perdana yang juga menjadi misi ke-647 dari seri Long March ini.

Hadirnya Long March 12B memberi daya gedor tambahan bagi Tiongkok dalam mengebut pembangunan mega-konstelasi Qianfan. 

Sebelumnya, pengerahan ribuan satelit internet ini lebih banyak bertumpu pada roket Long March 8 yang dijadwalkan terbang rutin sepanjang 2026. Kapasitas angkut armada baru yang jauh lebih besar memungkinkan proses pengisian jaringan internet tersebut berjalan lebih agresif.

Manuver senyap dalam peluncuran satelit ini terjadi di tengah fase superaktif program antariksa Tiongkok. Pada 29 Mei lalu, tiga astronaut misi Shenzhou-21 yakni Zhang Lu, Wu Fei, dan Zhang Hongzhang mendarat di Bumi menggunakan kapsul Shenzhou-22. 

Laporan kantor berita Xinhua mencatat mereka kembali setelah merampungkan rekor 210 hari bertugas di stasiun luar angkasa Tiangong, dengan membawa pulang 41 kilogram sampel ilmiah dari 23 proyek eksperimen di bidang ilmu hayati, material, dan pembakaran.

Ritme cepat ini terus dipertahankan. Hanya beberapa hari sebelum kepulangan kru Shenzhou-21, Tiongkok sudah mengirim misi lanjutan Shenzhou-23 ke orbit. 

Kantor berita Reuters melaporkan salah satu anggota kru dalam misi terbaru tersebut dijadwalkan menetap di Tiangong selama satu tahun penuh, durasi yang akan mencetak rekor nasional baru bagi penerbangan antariksa negara tersebut.