![]() |
| Seorang petugas kesehatan Ebola di pusat perawatan di Beni, Kongo Timur pada 16 April 2019. | AP PHOTO |
China akan mengirim tim ahli medis dan bantuan kemanusiaan darurat ke Republik Demokratik Kongo (DRC) untuk membantu penanganan wabah Ebola strain Bundibugyo yang terus meluas di Afrika Tengah dan Timur. Langkah itu menambah daftar negara dan lembaga internasional yang terlibat dalam respons terhadap krisis kesehatan yang telah dinyatakan sebagai kedaruratan global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kementerian Luar Negeri China mengumumkan keputusan tersebut pada Senin. Beijing bergabung dengan upaya internasional yang sebelumnya telah melibatkan Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, WHO, serta Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan pemerintahnya telah memutuskan untuk memberikan bantuan langsung kepada DRC yang menjadi pusat penyebaran wabah.
"Pemerintah China telah memutuskan untuk memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC dan mengirimkan tim ahli medis untuk layanan dan bantuan medis," kata Lin dalam konferensi pers.
Kasus Ebola tembus 1.000 dugaan
Wabah Ebola yang dipicu strain Bundibugyo menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Hingga 31 Mei, DRC mencatat 282 kasus terkonfirmasi dengan 42 kematian. Jumlah kasus dugaan dilaporkan telah melampaui 1.000 kasus dengan lebih dari 220 kematian.
Penyebaran juga telah menyeberang ke Uganda. Otoritas kesehatan negara itu melaporkan sembilan kasus terkonfirmasi dan satu kematian.
![]() |
| Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). | WHO |
Situasi yang memburuk mendorong Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengunjungi Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, pada akhir pekan lalu. Dalam kunjungannya, Tedros meminta masyarakat setempat berperan aktif dalam upaya pengendalian wabah ketika jumlah kasus terkonfirmasi hampir berlipat ganda dalam waktu 48 jam.
Berbeda dengan sejumlah wabah Ebola sebelumnya, strain Bundibugyo hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui. Kondisi itu menjadi tantangan besar bagi upaya penanganan karena vaksin terbukti berperan penting dalam mengendalikan beberapa wabah Ebola terdahulu.
WHO menetapkan wabah tersebut sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional pada 17 Mei.
Upaya tekan laju wabah Ebola
Respons internasional terus berkembang. Departemen Luar Negeri AS telah menggelontorkan lebih dari US$162 juta untuk penanganan wabah, termasuk tambahan bantuan bilateral senilai US$80 juta yang diselesaikan pada 27 Mei untuk mendukung operasi lapangan.
Kanada mengambil langkah lebih ketat dengan mewajibkan karantina selama 21 hari bagi pelancong dari wilayah terdampak. Ottawa juga menangguhkan sejumlah proses dokumen imigrasi bagi warga DRC, Uganda, dan Sudan Selatan.
Africa CDC memperkirakan kebutuhan dana untuk respons terkoordinasi di tingkat benua mencapai US$318,97 juta selama periode Juni hingga November 2026. Dalam pertemuan tingkat tinggi para menteri yang digelar Uni Afrika, komitmen awal donor dan pemerintah sempat mendekati US$500 juta. Namun sejumlah pihak kemudian meninjau kembali janji pendanaannya sehingga nilai komitmen turun menjadi sekitar US$290 juta.
Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya mengatakan vaksin untuk strain Bundibugyo diperkirakan tersedia pada akhir 2026.
Wabah Picu Perdebatan di AS
Wabah ini juga memicu perdebatan di AS terkait kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit menular global. Sejumlah media melaporkan kritik terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang memangkas dukungan bagi sejumlah program kesehatan internasional.
Laporan CNN menyebut pemerintah AS menarik dukungan finansial dari WHO, membubarkan USAID, serta mengurangi anggaran CDC. Langkah tersebut dinilai melemahkan jaringan pengawasan penyakit di kawasan terdampak.
Pemotongan bantuan luar negeri ikut memperburuk respons terhadap wabah di tengah meningkatnya penyebaran misinformasi.
Sementara Wired melaporkan sejumlah peneliti yang sebelumnya didanai melalui jaringan riset penyakit menular baru milik National Institutes of Health (NIH) menerima perintah penghentian kerja tahun lalu sehingga tidak dapat terlibat dalam penanganan di lapangan.
Pemerintahan Trump juga memperketat pengawasan perbatasan dengan mengarahkan pelancong dari negara-negara terdampak melalui bandara tertentu di AS. Pemerintah turut menyiapkan fasilitas karantina di Kenya bagi warga negara Amerika yang terpapar virus, alih-alih memulangkan mereka langsung ke dalam negeri.



0Komentar