![]() |
| Situs penambangan di Greenland di mana Jepang sedang mengeksplorasi potensi ekstraksi tanah jarang |
Jepang bersiap mengirim delegasi ke Greenland musim panas ini untuk menjajaki penambangan tanah jarang. Beijing pada Januari 2026 memperketat kontrol ekspor barang dual-use ke Jepang, mencakup tujuh unsur tanah jarang menengah dan berat termasuk magnet permanen. Data bea cukai China menunjukkan ekspor dysprosium, terbium, yttrium oksida, dan galium ke Jepang praktis terhenti sejak Desember 2025.
Delegasi musim panas ini bukan yang pertama. Pada November 2025, rombongan publik-swasta Jepang sudah lebih dulu mengunjungi tambang feldspar aktif milik Lumina Greenland, melibatkan METI, JOGMEC, serta perusahaan besar Mitsui, Marubeni, Mitsubishi, dan Sumitomo. Kesimpulan yang dibawa pulang: tambang itu punya potensi bisnis yang layak meski beroperasi di tengah dingin ekstrem.
Tomkazu Shimori, General Manager JOGMEC kantor London, yang ikut dalam rombongan November, menyebut kunjungan itu membuka banyak hal.
"Kami mendapat pemahaman yang jauh lebih dalam soal penambangan dan pemrosesan mekanis di Greenland. Kami juga mendapat apresiasi baru atas tantangan pengiriman di musim dingin dan persoalan infrastruktur listrik," ujarnya. "JOGMEC akan segera mempertimbangkan langkah selanjutnya untuk memperkuat hubungan dengan Greenland," tambah Shimori.
Kunjungan musim panas ini lebih serius skalanya. Para ahli dijadwalkan berkonsultasi dengan pemerintah otonom Greenland dan menginspeksi tambang-tambang yang sedang bersiap untuk penambangan tanah jarang, dengan fokus mempelajari cadangan, biaya produksi, dan kelayakan investasi perusahaan-perusahaan Jepang.
China menyumbang sekitar 80% impor tanah jarang Jepang. Pasokan dysprosium dan terbium, dua unsur krusial untuk motor kendaraan listrik dan turbin angin, nyaris terputus. Seorang pejabat pemerintah Jepang di Kedutaan Besar AS memperingatkan dampaknya bisa jauh lebih luas. "Jika Jepang tidak dapat mengimpor unsur tanah jarang yang diperlukan untuk produksi magnet, hal itu pada akhirnya akan berdampak pada semua perusahaan hilir dalam rantai pasok global," katanya kepada Platts, bagian dari S&P Global Energy.
Greenland menjadi sasaran yang masuk akal. US Geological Survey memperkirakan cadangan tanah jarang pulau itu mencapai 1,5 juta ton, menempatkannya di peringkat kedelapan dunia dan sebagian besar belum tersentuh.
Perhatian terhadap Greenland juga memanas dari arah lain. Gedung Putih pada Januari lalu menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi untuk memperoleh pulau tersebut, wacana yang sempat memantik kekhawatiran di kalangan sekutu NATO di Eropa sebelum beralih ke jalur diplomatik.
0Komentar