![]() |
| Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva berbicara selama konferensi pers selama Pertemuan Tahunan Bank Dunia/IMF di Washington, 24 Oktober 2024. |
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan kegagalan sistem global dalam mengantisipasi gelombang krisis ekonomi baru yang datang lebih cepat dan beruntun. Pemerintah dan pelaku usaha di seluruh dunia dinilai belum siap menghadapi era guncangan berulang yang berisiko memperlebar ketimpangan sosial.
Lembaga moneter global tersebut mencatat perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksikan menyentuh angka 3,1% pada tahun 2026. Angka ini menyimpang tajam dari tren sebelum konflik akibat tingginya harga energi dunia dan meningkatnya tensi geopolitik global.
Kondisi tersebut memperparah situasi setelah rentetan krisis beruntun menghantam perekonomian dunia dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pandemi Covid-19, invasi skala penuh Rusia ke Ukraina, hingga konflik di Timur Tengah.
Menghadapi situasi ini, IMF sempat mewanti-wanti para pembuat kebijakan mengenai perlunya penyesuaian yang sulit. "Kita tidak bisa melewatinya tanpa merasakan kepedihan," ujar Georgieva dalam Pertemuan Musim Semi IMF beberapa waktu lalu.
Selain ketidakpastian geopolitik, disrupsi teknologi dari pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi ancaman baru yang berpotensi memicu guncangan ekonomi setara dengan gelombang globalisasi masa lalu. Riset IMF menunjukkan inovasi digital ini siap mengubah peta lapangan kerja global secara drastis dalam waktu dekat.
Dalam wawancara khusus dengan Francine Lacqua dari Bloomberg untuk seri Leaders pada Senin (8/6), Georgieva menekankan bahwa dunia tidak boleh lengah karena frekuensi hantaman terhadap ekonomi global semakin tinggi.
Menurutnya, kegagalan mengelola transisi teknologi ini akan langsung memukul kelompok masyarakat paling rentan. "Dunia tidak boleh mengulangi kesalahan globalisasi dalam menghadapi disrupsi AI," tutur pemimpin lembaga yang menaungi 191 negara anggota tersebut.
Georgieva menambahkan, modal utama dalam mengeksekusi reformasi ekonomi yang berat di tingkat domestik adalah kepercayaan publik. Tanpa adanya jaminan perlindungan bagi kelompok rentan, kebijakan pengetatan atau transformasi struktural yang diambil pemerintah justru berisiko memantik resistensi sosial dan merusak kesatuan respons global.
0Komentar