pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., dan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Tokyo pada 28 Mei 2026. 

Jepang dan Filipina memperdalam kerja sama pertahanan dan maritim, membentuk front keamanan yang menurut para analis dampaknya melampaui Laut China Selatan dan menyentuh titik-titik paling sensitif dalam strategi Beijing di kawasan Indo-Pasifik.

Setelah kunjungan kenegaraan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. ke Tokyo pekan lalu, kedua negara sepakat memulai pembicaraan formal mengenai berbagi intelijen militer dan penetapan batas maritim. Hubungan bilateral mereka sekaligus ditingkatkan menjadi kemitraan strategis yang komprehensif.

Beijing merespons keras. Mengutip SCMP, Pemerintah China mengecam pembicaraan perbatasan itu sebagai ilegal dan tidak sah, serta mengirimkan kapal penjaga pantai untuk patroli penegakan hukum di sebelah timur Taiwan.

Perkembangan ini tidak berdiri sendiri. Pada hari yang sama, Manila dan Hanoi juga meningkatkan hubungan mereka menjadi kemitraan strategis dan memperbarui nota kesepakatan kerja sama pertahanan. 

Marcos menyatakan langkah itu akan memperkuat kemampuan bersama kedua negara dalam keamanan maritim. Dalam konferensi pers bersama pemimpin Vietnam To Lam, Marcos menegaskan bahwa menjaga perdamaian, stabilitas, dan kebebasan navigasi serta penerbangan di Laut China Selatan "tetap tidak dapat ditawar".

Para pengamat menilai rangkaian perkembangan ini menghubungkan isu-isu maritim Beijing yang paling sensitif, dari Laut China Selatan dan Laut China Timur hingga Selat Taiwan, menjadi satu front keamanan yang lebih terintegrasi.

Lucio Blanco Pitlo III, peneliti di Asia Pacific Pathways to Progress Foundation yang berbasis di Manila, mengatakan kerja sama militer dan logistik yang lebih erat antara Tokyo dan Manila akan mempersulit perencanaan Beijing dalam skenario krisis Taiwan. 

Personel Penjaga Pantai Filipina (Philippine Coast Guard) di atas perahu karet melaju cepat melewati kapal Penjaga Pantai China (Chinese Coast Guard) di dekat sebuah karang sengketa di Laut China Selatan. | CGTN

Kekhawatiran terbesar Beijing, menurutnya, adalah kedua negara tetangga pesisir itu menghubungkan titik-titik rawan maritim menjadi satu teater terpadu.

"Pandangan itu dapat berfungsi sebagai dasar kesadaran keamanan kolektif, yang dapat diperdalam dan menghasilkan tindakan yang lebih terpadu," kata Pitlo.

Pitlo menambahkan bahwa Jepang dan Filipina kemungkinan akan menerima pengungsi dalam potensi konflik di Selat Taiwan, dengan Kepulauan Yaeyama dan Batanes sebagai titik masuk yang paling mungkin. Ia menyebut feri baru yang menghubungkan Keelung di Taiwan dengan Pulau Ishigaki di Jepang sebagai contoh nyata garis batas yang kabur antara infrastruktur sipil dan kesiapan menghadapi krisis.

Shi Yinhong, profesor hubungan internasional di Universitas Renmin, melihat langkah-langkah ini mencerminkan lingkungan strategis China yang semakin menantang. Ia mencatat bahwa Filipina telah lama menjadi salah satu mitra strategis terpenting Jepang di luar Amerika Serikat.

"Kedua negara memiliki konflik tajam dengan China. Terutama sekarang, ketika China terlibat dalam konfrontasi penuh dengan Jepang, Tokyo memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk memperkuat hubungan dengan Manila," ujar Shi.

Hubungan Beijing dengan Tokyo sendiri sudah lama tegang akibat sengketa Laut China Timur dan dendam historis. Ketegangan itu semakin parah setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu mengisyaratkan bahwa serangan terhadap Taiwan dapat memicu respons militer Jepang.

Stephen Nagy, profesor ilmu politik dan studi internasional di International Christian University Tokyo, menilai koordinasi yang lebih erat antara Jepang dan Filipina secara langsung mempersulit jadwal operasional China. Akses, logistik, dan perencanaan evakuasi, katanya, memperumit medan pertempuran di sekitar jalur masuk selatan Taiwan.

Nagy menekankan bahwa makna yang lebih dalam dari kemitraan ini bukan sekadar soal persenjataan, melainkan integrasi intelijen dan koordinasi tingkat teater antara Laut China Timur dan Laut China Selatan.

"Perangkat keras dapat dihitung; jaringan lebih sulit untuk diganggu," kata Nagy.

Ia juga menilai kemitraan ini memperkuat apa yang ia sebut sebagai diplomasi jaringan Jepang, yang menghubungkan Filipina dengan Australia, Vietnam, dan kelompok Quad yang dipimpin Washington. 

Menurut Nagy, Beijing kemungkinan akan merespons secara asimetris melalui pengaruh ekonomi, latihan militer terukur, dan upaya memecah belah di dalam ASEAN. Namun ia memperingatkan bahwa respons berlebihan dari Beijing justru berisiko memperkuat aliansi yang ingin dilemahkannya.

IISS Shangri-La Dialogue 2026, sebuah pertemuan puncak keamanan Asia yang ke-23 yang diadakan di Singapura dari tanggal 29 hingga 31 Mei 2026. | IISS

Di luar kalangan akademisi, suara dari Manila juga mengeras. Pada Dialog Shangri-La di Singapura akhir pekan lalu, Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jnr menyatakan negaranya berada di bawah ancaman serius dari China meski baru saja ada pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Teodoro menegaskan Manila tidak punya pilihan selain bersikap tangguh dan melawan agresi China.

Teodoro juga menguraikan upaya konvergensi untuk memperdalam hubungan dengan Tokyo, Hanoi, dan Taipei, termasuk di bidang koridor ekonomi dan pengaturan evakuasi bagi sekitar 200.000 warga Filipina yang tinggal di Taiwan. Ia menegaskan tujuan Manila bukan untuk dicap sebagai sebuah blok, melainkan sebagai aliansi pertahanan aktif.

Faktor Amerika Serikat turut mendorong dinamika ini. Pendekatan transaksional Presiden Trump terhadap aliansi dan keputusannya yang tertunda soal penjualan senjata ke Taiwan mendorong negara-negara kawasan untuk membangun jaringan keamanan mandiri. Nagy menyebut penguatan hubungan pertahanan Manila sebagai bagian dari pergeseran struktural menuju pencegahan terdistribusi.

"Bahkan dengan keterlibatan AS yang berkelanjutan, negara-negara kekuatan menengah semakin mencari kapasitas otonom dan hubungan keamanan yang beragam," katanya.