Pesawat tempur F-15E Strike Eagle Angkatan Udara AS lepas landas untuk misi mendukung Operasi Epic Fury selama perang Iran di lokasi yang dirahasiakan, 9 Maret 2026. | U.S. AIR FORCE

Investigasi mendalam tengah dilakukan pemerintah Amerika Serikat terkait jatuhnya jet tempur F-15E Strike Eagle miliknya di wilayah barat daya Iran, bulan lalu. Washington menduga kuat Iran menjatuhkan pesawat tersebut menggunakan rudal berpemandu buatan China. 

Insiden ini menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir pesawat tempur AS lumpuh akibat tembakan musuh, sekaligus memantik ketegangan baru antara Washington dan Beijing.

Laporan awal dari NBC News menyebutkan jet tempur tersebut kemungkinan besar dihantam sistem pertahanan udara portabel atau man-portable air defense systems (MANPADS) asal China. Beruntung, kedua awak pesawat berhasil menyelamatkan diri menggunakan kursi pelontar. Sang pilot berhasil dievakuasi dalam waktu tujuh jam. Petugas sistem persenjataan baru ditemukan selamat dua hari kemudian setelah sempat bersembunyi di kawasan Pegunungan Zagros.

Kecurigaan intelijen AS tidak berhenti pada rudal darat-ke-udara tersebut. Sejumlah pejabat di Washington mensinyalir China telah memasok sistem radar peringatan dini jarak jauh ke Teheran sejak awal konflik. 

Teknologi radar canggih ini diklaim mampu mengendus keberadaan pesawat siluman (stealth aircraft) yang dirancang untuk mengelabui radar konvensional. Saat ini, otoritas AS masih menyisir bukti untuk memastikan apakah pasokan militer tersebut merupakan kiriman baru atau bagian dari persediaan lama Iran.

Tuduhan ini mencuat di tengah momentum diplomasi yang sensitif. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebenarnya sedang gencar mendorong negosiasi untuk mengakhiri perang, bahkan sempat memediasi gencatan senjata dengan Iran menjelang pertemuan penting sang presiden dengan Pemimpin China Xi Jinping. 

Terkait komitmen persenjataan, Gedung Putih berpegang pada pernyataan Trump yang menyebut Xi Jinping telah berjanji untuk tidak mengirimkan senjata ke Iran—sebuah komitmen yang juga dibenarkan oleh pihak Beijing.

Merespons tudingan yang berkembang, Kedutaan Besar China di Washington langsung membantah keras. Mereka menegaskan bahwa negaranya selalu menerapkan kontrol ketat terhadap ekspor produk militer sesuai hukum nasional serta kewajiban internasional, sekaligus menolak tuduhan yang dinilai tidak berdasar tersebut.

Di panggung global, China memegang pengaruh ekonomi yang masif terhadap Teheran selaku pembeli utama minyak mentah Iran. Ketergantungan ini membuat stabilitas kawasan menjadi krusial bagi rantai pasok dunia. 

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa stabilitas pasar energi global menjadi salah satu alasan mengapa komunitas internasional perlu terlibat dalam upaya penyelesaian konflik.

Meski penjualan senjata skala besar dari Beijing ke Teheran menyusut sejak embargo senjata PBB tahun 2006, para analis menilai hubungan ekonomi kedua negara tetap kokoh. 

China disinyalir terus menyuplai berbagai teknologi ganda (dual-use technology) dan komponen sipil yang bisa dimodifikasi untuk keperluan militer. Pasokan ini membantu Iran mempertahankan kapasitas industrinya, termasuk memproduksi persenjataan domestik dan mengembangkan sistem pengawasan di tengah jepitan sanksi internasional.