![]() |
| Presiden Rusia Vladimir Putin, kanan, dan Presiden China Xi Jinping berjabat tangan saat upacara penyambutan di Balai Agung Rakyat, Beijing, China, Rabu, 20 Mei 2026. | ALEXANDER KAZAKOV/POOL SPUTNIK |
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin melontarkan kritik bersama terhadap program pertahanan rudal Golden Dome milik Amerika Serikat dalam pertemuan tingkat tinggi di Beijing, Rabu. Keduanya menilai proyek tersebut mengancam stabilitas strategis global dan berisiko mendorong militerisasi luar angkasa.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan soal pengendalian senjata nuklir dan perlombaan sistem pertahanan rudal antara kekuatan besar dunia.
Dalam dokumen bersama yang dirilis usai pertemuan, Beijing dan Moskwa menuding Washington tengah membangun sistem pertahanan rudal global yang mencakup darat hingga luar angkasa.
Mereka menyebut Golden Dome dirancang untuk “menghancurkan semua jenis rudal, termasuk rudal milik negara setara, di setiap tahap penerbangan maupun sebelum diluncurkan”. Menurut Xi dan Putin, pendekatan tersebut bertentangan dengan prinsip keseimbangan antara kemampuan ofensif dan defensif dalam doktrin stabilitas strategis nuklir.
KTT berlangsung dengan seremoni kenegaraan besar di Aula Besar Rakyat, Beijing. Reuters melaporkan Putin disambut upacara militer lengkap dan salvo meriam sebelum kedua negara merilis pernyataan bersama hampir 10 ribu kata yang membahas isu mulai dari keamanan nuklir, Taiwan, hingga kerja sama lingkungan.
Sorotan utama tetap tertuju pada Golden Dome, proyek pertahanan rudal yang didorong Presiden AS Donald Trump. Sistem itu disebut menggabungkan pencegat berbasis darat dan luar angkasa untuk menghadapi ancaman rudal jarak jauh.
Selain mengkritik program tersebut, Beijing dan Moskwa juga menyinggung berakhirnya perjanjian pengendalian senjata New START tanpa kesepakatan pengganti. Dalam dokumen bersama, keduanya menilai kebijakan AS telah memperburuk ketidakpastian strategis global.
Rusia turut mendukung sikap China yang selama ini menolak bergabung dalam perundingan pengurangan senjata nuklir antara Washington dan Moskwa. Pernyataan itu juga memperingatkan soal rencana penempatan rudal jarak menengah berbasis darat di wilayah garis depan, serta doktrin serangan pendahuluan yang dinilai “sangat destabilisasi”.
Pertemuan Xi dan Putin berlangsung hanya beberapa hari setelah Xi menerima kunjungan Trump di Beijing yang berfokus pada perdagangan dan investasi. Agenda dengan Rusia itu memperlihatkan kontras diplomatik Beijing terhadap Washington di tengah rivalitas geopolitik yang makin terbuka.
Di luar isu keamanan, kedua negara menandatangani sekitar 40 kesepakatan kerja sama di bidang perdagangan, energi, teknologi, hingga media. Associated Press melaporkan pembahasan juga mencakup proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang telah lama tertunda.
Putin menggambarkan hubungan Rusia dan China berada pada “tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Kedua negara juga kembali menegaskan dukungan terhadap kedaulatan dan kepentingan nasional masing-masing.
Pada hari yang sama, Rusia merilis rekaman latihan nuklir yang memperlihatkan pemuatan hulu ledak ke sistem rudal bergerak Iskander-M di wilayah Rusia dan Belarus. Langkah itu muncul ketika perdebatan soal pertahanan rudal dan keseimbangan nuklir kembali memanas di antara negara-negara besar.

0Komentar