Tupolev Tu-142 Angkatan Laut India. SERGEY KRIVCHIKOV/WIKIPEDIA

Ukraina mengklaim berhasil menghancurkan dua pesawat patroli maritim Tu-142 dan satu kendaraan peluncur rudal Iskander dalam serangan drone terhadap pangkalan udara militer Rusia di Taganrog pada malam 30 Mei. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari operasi yang menyasar puluhan fasilitas militer dan strategis di wilayah yang dikuasai Rusia.

Militer Ukraina menyatakan operasi itu dilakukan oleh unit drone "Magyar's Birds", salah satu satuan dalam Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina. Dalam pernyataan yang dikutip sejumlah media Ukraina, pasukan tersebut menyebut berhasil menyerang aset penting militer Rusia yang berada di pangkalan udara Taganrog.

"Burung-burung USF menghancurkan satu Iskander dan dua pesawat Tu-142 di pangkalan udara militer Taganrog, Federasi Rusia, pada malam 30 Mei," demikian pernyataan Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina.

Taganrog berada di wilayah Rostov, Rusia selatan, dan selama perang menjadi salah satu fasilitas yang mendukung operasi militer Rusia. Beberapa hari sebelum serangan drone itu, pangkalan yang sama juga dilaporkan menjadi sasaran rudal jelajah Storm Shadow yang ditembakkan Angkatan Udara Ukraina.

Menurut data terbuka militer, Tu-142 merupakan pesawat patroli maritim jarak jauh yang dikembangkan dari pembom strategis Tu-95 pada era Soviet. Pesawat bermesin turboprop tersebut digunakan untuk misi pengawasan maritim dan peperangan antikapal selam. Rusia diperkirakan masih mengoperasikan sekitar dua lusin pesawat Tu-142 dalam berbagai varian.

Klaim penghancuran dua pesawat sekaligus menjadi salah satu serangan paling signifikan terhadap armada penerbangan angkatan laut Rusia dalam beberapa waktu terakhir. Hingga kini belum ada konfirmasi independen maupun tanggapan resmi dari Kementerian Pertahanan Rusia terkait tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

Serangan di Taganrog berlangsung bersamaan dengan operasi yang lebih luas. Militer Ukraina menyebut 23 fasilitas militer dan strategis di wilayah pendudukan Rusia menjadi sasaran dalam gelombang serangan yang sama. Pada malam itu, drone Ukraina juga dilaporkan menyerang depot minyak dan sebuah kapal tanker yang disebut terkait armada bayangan Rusia di kawasan Taganrog.

Intensitas serangan drone Ukraina meningkat dalam beberapa bulan terakhir seiring upaya Kyiv memperluas jangkauan serangan ke wilayah belakang garis depan. Reuters melaporkan Ukraina kini mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk operasi jarak menengah yang menargetkan sistem pertahanan udara, logistik, dan infrastruktur militer Rusia pada kedalaman 30 hingga 180 kilometer dari garis tempur.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan pada awal Mei bahwa jumlah serangan di luar jarak 20 kilometer dari garis depan telah meningkat dua kali lipat dibandingkan Maret dan empat kali lipat dibandingkan Februari. Pada periode yang sama, satuan drone Ukraina mengklaim telah menyerang lebih dari 19.000 personel Rusia hanya dalam 19 hari pertama Mei.