rudal jelajah supersonik BrahMos. AP PHOTO/AJIT KUMAR

India mengonfirmasi telah menandatangani kesepakatan ekspor rudal jelajah supersonik BrahMos ke Vietnam dengan nilai sekitar US$629 juta. Pengumuman itu disampaikan Sekretaris Pertahanan India Rajesh Kumar Singh dalam forum keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura, Sabtu (30/5), sekaligus menjadi konfirmasi publik pertama atas perjanjian yang selama ini dibahas tertutup.

Kesepakatan tersebut mencakup pengadaan sistem rudal BrahMos beserta dukungan pelatihan dan logistik. Meski Hanoi belum mengumumkannya secara resmi, Singh memastikan perjanjian telah ditandatangani. Ia juga mengungkapkan bahwa kesepakatan serupa dengan Indonesia kini berada pada tahap akhir penyelesaian.

BrahMos merupakan rudal jelajah supersonik hasil pengembangan bersama India dan Rusia yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi produk unggulan ekspor pertahanan New Delhi. Pemerintah India menjadikan sistem senjata itu sebagai bagian penting dari upaya memperluas pengaruh industri pertahanan nasional di pasar internasional.

Pernyataan Singh muncul sehari setelah Presiden Vietnam To Lam menyampaikan pidato utama di Shangri-La Dialogue. Dalam forum tersebut, To Lam mengingatkan negara-negara Asia mengenai risiko meningkatnya persaingan antarkekuatan besar dan menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap menjadi fondasi stabilitas kawasan.

India sebelumnya mencatat keberhasilan ekspor BrahMos ke Filipina. Pada 2022, Manila menjadi negara pertama yang membeli sistem tersebut melalui kontrak bernilai hampir US$375 juta.

Indonesia juga telah bergerak ke arah yang sama. Pada Maret 2026, Kementerian Pertahanan mengonfirmasi penandatanganan perjanjian pengadaan BrahMos untuk kebutuhan Angkatan Laut. Juru bicara Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait mengatakan pembelian itu merupakan bagian dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan nasional.

"Untuk meningkatkan kemampuan deterensi dalam menjaga kedaulatan nasional," kata Rico saat menjelaskan tujuan pengadaan sistem tersebut.

Sejumlah laporan sebelumnya menyebut paket untuk Indonesia diperkirakan mencakup satu baterai yang terdiri atas peluncur, radar, dan rudal. Nilai kontraknya diperkirakan berada di kisaran US$200 juta hingga US$450 juta.

Kesepakatan dengan Vietnam dan Indonesia berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan maritim di Laut China Selatan. Kedua negara ASEAN tersebut sama-sama memiliki pengalaman ketegangan dengan China terkait wilayah perairan yang saling tumpang tindih.

Dalam forum yang sama, Singh menegaskan komitmen India untuk memperluas kerja sama pertahanan dengan negara-negara ASEAN. Ia menyatakan New Delhi siap memperdalam kemitraan strategis serta berbagi teknologi dengan negara-negara yang dianggap sebagai mitra tepercaya.