Raybird (atau Raybird-3), sebuah sistem udara tak berawak (UAS) taktis yang diproduksi oleh perusahaan Ukraina. | SKYETON


Sekitar 20 negara kini berada di berbagai tahap penandatanganan perjanjian drone dengan Ukraina sebagian sudah rampung, sebagian masih dalam negosiasi. 

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan hal itu pekan ini, menandai ekspansi cepat dari apa yang ia sebut Drone Deal, inisiatif ekspor pertahanan yang dirancang bukan sekadar menjual senjata, melainkan membangun jaringan kerja sama strategis jangka panjang.

Empat perjanjian telah diselesaikan dan kontrak pertama sedang dipersiapkan. Cakupannya meluas dari Timur Tengah, kawasan Teluk, Kaukasus Selatan, hingga Eropa.

Gagasan ini bermula dari kebutuhan mendesak di lapangan. Ketika konflik antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran memanas, negara-negara Teluk membutuhkan keahlian untuk menangkal drone Shahed buatan Iran. 

Ukraina, yang selama lebih dari dua tahun menghadapi ancaman serupa dari Rusia, punya keahlian itu. Kyiv mengirim lebih dari 200 spesialis ke Timur Tengah dan dari situlah perjanjian kerja sama pertahanan 10 tahun dengan Arab Saudi, Qatar, serta Uni Emirat Arab lahir pada awal tahun ini.

Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman menyusul. Azerbaijan menandatangani enam perjanjian bilateral saat Zelenskyy berkunjung ke Baku akhir April lalu.

Di Eropa, skema serupa dijalankan dengan Jerman, Norwegia, Italia, dan Belanda. Norwegia menandatangani deklarasi bersama yang oleh para pejabat disebut sebagai "langkah pertama menuju Drone Deal." Belanda melangkah lebih jauh: menjanjikan 248 juta euro untuk produksi drone Ukraina sekaligus menyetujui dimulainya manufaktur bersama.

Kerja sama ini tidak berhenti pada transfer teknologi. Setiap perjanjian mencakup ko-produksi, pembangunan lini manufaktur di Ukraina maupun di negara mitra, pengembangan teknologi bersama, dan pembiayaan jangka panjang. Zelenskyy menyebut inisiatif ini akan mencakup "setidaknya 10 kontrak berbeda untuk ekspor senjata Ukraina."

Yang membuat skema ini berbeda dari jual-beli senjata biasa adalah komponen imbal-balik energinya. Negara-negara Teluk sepakat mengirimkan solar dan minyak mentah langsung ke kilang-kilang Eropa sebagai imbalan atas bantuan teknologi anti-drone dari Ukraina.

"Kami membantu memperkuat keamanan mereka sebagai imbalan atas kontribusi bagi ketahanan negara kami. Dan ini jauh lebih dari sekadar menerima uang," kata Zelenskyy kepada para wartawan.

Ukraina membutuhkan sekitar 700.000 ton solar dan bensin per bulan atau sekitar 7,2 hingga 7,4 juta ton per tahun untuk kebutuhan militer dan sipil. Zelenskyy mengungkapkan pada akhir Maret bahwa ia secara pribadi telah mengamankan pasokan solar untuk satu tahun penuh. 

Diplomasi drone ini, menurut kalangan pejabat Ukraina, sebagian memang dirancang untuk membuka keran pasokan energi dari Timur Tengah, sekaligus memperluas pasar bagi produk pertanian Ukraina.

Di balik semua itu ada kapasitas produksi yang tumbuh jauh melampaui kebutuhan domestik. Sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai pada 2022, produksi drone Ukraina melonjak lima puluh kali lipat. Tahun 2026, Ukraina berencana memproduksi lebih dari tujuh juta drone.

Dalam KTT European Political Community di Yerevan pada 4 Mei, Zelenskyy menyebut Drone Deals sebagai "kontribusi Ukraina bagi keamanan kolektif Eropa."