Roket H2A Jepang yang diluncurkan oleh JAXA dari Tanegashima Space Center, di prefektur barat daya Kagoshima pada Kamis (7/9/2023). X/JAXA_HR


NATO mulai membuka program peluncuran satelit Starlift ke negara-negara di luar aliansi dengan mengundang Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru untuk ikut bergabung. Langkah itu dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Barat terhadap ancaman pada infrastruktur luar angkasa, terutama dari Rusia dan China.

Laporan Nikkei Asia menyebut NATO sedang memperluas kerja sama Starlift yang sebelumnya hanya diikuti negara anggota aliansi. Program tersebut dibentuk untuk memastikan satelit pengganti dapat diluncurkan dengan cepat ketika satelit utama rusak, terganggu, atau dihancurkan.

Starlift diluncurkan pada Oktober 2024 dan kini diikuti 14 anggota NATO, yakni Belgia, Finlandia, Prancis, Jerman, Hungaria, Italia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Turki, Inggris Raya, dan Amerika Serikat. Kanada menyusul bergabung pada awal 2026.

Skema itu memungkinkan negara peserta saling berbagi fasilitas dan kendaraan peluncuran. Dengan sistem tersebut, satelit cadangan dapat dikirim ke orbit dari wilayah negara lain jika fasilitas peluncuran sebuah negara tidak dapat digunakan.

NATO juga disebut ingin memperluas cakupan kerja sama hingga mencakup satelit militer dan komersial. Aliansi itu menilai ketahanan jaringan satelit menjadi semakin penting seiring meningkatnya risiko gangguan di luar angkasa.

Kekhawatiran tersebut menguat setelah AS dan sejumlah sekutunya menggelar latihan militer pada April 2026 yang mensimulasikan dampak ledakan nuklir terhadap satelit di orbit. Simulasi itu dirancang untuk menguji kemampuan menghadapi gangguan besar pada sistem komunikasi dan navigasi berbasis satelit.

Sejumlah pejabat NATO menilai Rusia dan China terus mengembangkan kemampuan anti-satelit, mulai dari gangguan elektronik hingga penghancuran langsung terhadap objek di orbit.

Jepang menjadi salah satu negara yang paling aktif didekati dalam perluasan program ini. Meski bukan anggota NATO, Tokyo berstatus sebagai “mitra global” dan telah menjalin kerja sama dengan aliansi sejak awal 1990-an, termasuk di bidang keamanan maritim dan pertahanan siber.

Pemerintah Jepang juga melihat proyek Starlift sebagai peluang mempercepat pertumbuhan industri luar angkasa domestik. Menurut Nikkei Asia, program itu dinilai dapat mendorong aktivitas ekonomi di sekitar fasilitas peluncuran satelit di Jepang.

Tokyo saat ini menargetkan industri luar angkasa nasional tumbuh hingga 8 triliun yen pada awal 2030-an. Pemerintah Jepang mendukung target tersebut melalui Dana Strategi Luar Angkasa senilai 1 triliun yen yang dikelola Japan Aerospace Exploration Agency.

Mitsubishi Heavy Industries, perusahaan yang mengoperasikan roket H3, juga mulai memperluas kapasitas peluncuran. Roket itu disebut memiliki biaya operasional sekitar setengah dari generasi sebelumnya. Perusahaan tersebut menargetkan enam peluncuran setiap tahun dan telah mengamankan sejumlah kontrak peluncuran satelit mulai 2027.