![]() |
| Ilustrasi sebuah manometer atau alat pengukur tekanan yang terpasang pada infrastruktur pipa gas bumi. | SHUTTERSTOCK |
CEO Sultan Ahmed Al Jaber mengatakan proyek pipa minyak baru Uni Emirat Arab yang dirancang untuk melewati Selat Hormuz kini telah mencapai sekitar 50% pembangunan. Proyek itu dipercepat ketika jalur pelayaran energi paling vital di dunia masih terganggu akibat perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataannya di acara Atlantic Council pada Rabu (20/5), Al Jaber mengatakan pemulihan arus minyak global kemungkinan masih membutuhkan waktu panjang bahkan setelah perang berakhir. Menurut dia, perdagangan energi dunia mungkin baru bisa pulih hingga 80% dari level sebelum konflik dalam waktu sedikitnya empat bulan setelah perang berhenti.
Iran sejak akhir Februari menutup sebagian besar akses Selat Hormuz bagi kapal asing, menyusul serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari. Penutupan itu langsung memantik lonjakan harga energi global dan memperbesar kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia.
Pekan lalu, Kantor Media Abu Dhabi mengungkap proyek West-East Pipeline yang tengah dikebut ADNOC. Putra Mahkota Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed disebut memerintahkan percepatan pembangunan agar kapasitas ekspor minyak melalui pelabuhan Fujairah dapat meningkat dua kali lipat pada 2027.
“Hari ini proyek itu sudah hampir 50% selesai, dan kami mempercepat penyelesaiannya menuju 2027,” kata Al Jaber.
Ia mengatakan keputusan membangun jalur alternatif di luar Selat Hormuz sudah diambil UEA lebih dari satu dekade lalu karena tingginya ketergantungan perdagangan energi dunia terhadap jalur sempit strategis.
“Saat ini, terlalu banyak energi dunia masih melewati terlalu sedikit titik sempit strategis. Itulah sebabnya UEA memutuskan lebih dari satu dekade lalu untuk berinvestasi pada infrastruktur yang melewati Selat Hormuz,” ujarnya.
![]() |
| Peta jalur pipa minyak Habshan–Fujairah milik Uni Emirat Arab yang dirancang untuk mengalihkan ekspor minyak di luar Selat Hormuz. |
UEA saat ini telah memiliki Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP) dengan kapasitas hingga 1,8 juta barel per hari. Jalur itu memungkinkan ekspor minyak dialihkan langsung ke pantai Teluk Oman tanpa melewati Selat Hormuz.
Konflik terbaru juga membuat Iran memperluas klaim pengawasan wilayah perairannya hingga mencakup garis pantai Teluk Oman milik UEA. Sebelumnya, Teheran beberapa kali menyerang kapal-kapal di sekitar selat untuk menunjukkan kendali atas jalur tersebut.
AS sempat mencoba operasi untuk membuka kembali jalur pelayaran, namun upaya itu gagal. Washington kemudian memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran.
Negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS ikut terdampak meski gencatan senjata rapuh mulai berlaku sejak 8 April. Al Jaber mengatakan UEA menjadi sasaran lebih dari 3.000 rudal dan drone yang diarahkan ke infrastruktur sipil, termasuk fasilitas ADNOC.
Menurut dia, penilaian kerusakan masih berlangsung dan pemulihan penuh kapasitas operasional dapat memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan.
“UEA diserang karena model pembangunannya,” ujar Al Jaber.
Ia juga memperingatkan bahwa lalu lintas perdagangan melalui Selat Hormuz kemungkinan belum akan kembali normal sepenuhnya sebelum kuartal pertama atau kedua 2027.
“Begitu dunia menerima bahwa satu negara dapat menyandera jalur pelayaran terpenting dunia, maka kebebasan navigasi seperti yang kita kenal akan berakhir,” katanya. “Jika prinsip ini tidak dipertahankan hari ini, maka dekade berikutnya akan dihabiskan untuk menghadapi konsekuensinya.”
Percepatan proyek pipa baru itu datang tak lama setelah UEA resmi keluar dari pada 1 Mei. Keputusan tersebut mengakhiri kewajiban UEA mengikuti kuota produksi minyak yang selama ini dipimpin secara de facto oleh Arab Saudi.
Al Jaber menyebut keluarnya UEA dari OPEC sebagai keputusan strategis yang didorong kebutuhan energi global yang terus meningkat. Ia juga menyoroti minimnya investasi di sektor energi global. Menurut dia, investasi hulu minyak sekitar US$400 miliar per tahun saat ini hanya cukup untuk menutup penurunan produksi alami.
Kapasitas cadangan minyak mentah dunia yang kini berada di kisaran 3 juta barel per hari, kata dia, seharusnya mendekati 5 juta barel per hari.
Al Jaber turut menyinggung lonjakan kebutuhan listrik akibat perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Ia mengatakan banyak pihak masih meremehkan besarnya konsumsi energi dari teknologi tersebut.
Ia menambahkan ADNOC, unit internasionalnya XRG, serta investor energi terbarukan Masdar telah memiliki investasi senilai US$85 miliar di 19 negara bagian AS. “UEA dan Amerika Serikat bukan sekadar mitra dagang. Kami adalah rekan investor dalam ekonomi abad berikutnya,” kata Al Jaber.


0Komentar