Kaja Kallas, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan sekaligus Wakil Presiden Komisi Eropa. | REUTERS

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, memperingatkan bahwa tiga kekuatan besar dunia yakni Amerika Serikat, China, dan Rusia  memiliki kepentingan yang sama dalam melihat Eropa tercerai-berai.

Peringatan itu disampaikan Kallas dalam Konferensi Lennart Meri di Tallinn, Estonia, yang berlangsung 15–17 Mei dengan tema Fortune Favours the Brave. Ia mendesak negara-negara anggota UE untuk tidak menjalin kesepakatan bilateral terpisah dengan Washington, melainkan bernegosiasi sebagai satu blok yang utuh.

"Alasan mengapa kekuatan-kekuatan ini ingin membubarkan Uni Eropa adalah karena kita jauh lebih kuat ketika bersatu," ujar Kallas.

Seruan itu bukan pertama kalinya. Dalam wawancara dengan Financial Times Maret lalu, Kallas sudah menegaskan bahwa Washington "tidak menyukai Uni Eropa" dan telah "sangat jelas ingin memecah belah Eropa." Kini ia mengulang pesan serupa di tengah kebuntuan negosiasi perdagangan UE-AS yang sempat terhenti awal bulan ini, tanpa ada titik temu yang berarti antara Brussel dan Washington.

Pernyataan Kallas langsung memantik respons dari Kremlin. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, berbicara kepada jurnalis media pemerintah Rusia Pavel Zarubin pada 17 Mei, menyatakan bahwa Kallas tidak semestinya mewakili UE dalam urusan dengan Rusia.

"Demi kepentingan terbaik Kaja Kallas sendiri, sebaiknya ia tidak menjadi negosiator. Tugasnya tidak akan mudah," kata Peskov. Ia menambahkan bahwa Presiden Vladimir Putin sebelumnya sudah menyarankan agar peran itu diberikan kepada seseorang yang "belum terlanjur banyak mengucapkan hal-hal buruk."

Di saat yang sama, Peskov menyebut meningkatnya diskusi di Eropa soal kemungkinan keterlibatan langsung dengan Moskwa sebagai perkembangan yang positif. "Pihak Rusia akan siap untuk ini," katanya.

Kallas sendiri sudah lebih dulu menolak usul Putin yang menginginkan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schröder mewakili Eropa dalam perundingan. Ia menyebut gagasan itu "tidak terlalu bijak," mengingat hubungan panjang Schröder dengan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan negara Rusia.

Dalam pertemuan para menteri pertahanan UE pada 12 Mei, Kallas juga menilai posisi Putin saat ini justru lemah. Kerugian di medan perang, korban jiwa yang terus bertambah, serta ketidakpuasan domestik yang kian meningkat di dalam negeri Rusia, kata Kallas, menghadirkan "peluang untuk mengakhiri perang ini."

Perundingan trilateral antara AS, Ukraina, dan Rusia sendiri sudah mandek sejak Maret lalu, setelah Peskov mengonfirmasi bahwa proses itu terhenti. 

Kini, dengan sejumlah negara Eropa mulai mempertimbangkan untuk membuka saluran langsung ke Moskwa, desakan Kallas akan solidaritas blok menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus.