Rekrutan Rusia naik kereta api di stasiun kereta api di Prudboi di wilayah Volgograd Rusia, 29 September 2022. | AP PHOTO

Rusia merekrut pejuang dari berbagai faksi di Yaman untuk memperkuat barisan di Ukraina, menawarkan uang tunai di muka, gaji bulanan, hingga kewarganegaraan Rusia. Kampanye ini terungkap dalam laporan yang diterbitkan Middle East Eye pada Sabtu (16/5/2026).

Para rekrutan bukan dari satu kubu saja. Jaringan ini menjaring veteran dari barisan Houthi, tentara pemerintah Yaman, hingga mantan anggota milisi yang didukung Uni Emirat Arab semuanya digiring ke garis depan pertempuran yang jauh dari tanah air mereka.

Kemiskinan jadi alat rekrutmen

Hancurnya ekonomi Yaman akibat perang saudara bertahun-tahun menjadi celah yang dimanfaatkan jaringan ini. Para rekrutan dijanjikan bonus hingga US$10.000 saat tanda tangan kontrak, gaji bulanan US$2.000 hingga US$3.000, serta jalur cepat menuju kewarganegaraan Rusia. Para makelar yang memfasilitasi rekrutmen dilaporkan meraup US$10.000 hingga US$15.000 per kepala.

Tokoh kunci dalam skema ini adalah Abd al-Wali al-Jabri, anggota parlemen yang terkait Houthi. Berbagai sumber menyebut ia telah menjual setidaknya 150 warga Yaman ke Rusia dengan dalih kontrak kerja sipil. Sesampainya di Moskwa, paspor mereka disita. Mereka lalu dipaksa menandatangani kontrak militer berbahasa Rusia sebelum dikirim ke Donbas dan Kursk. Banyak yang baru sadar tertipu setelah tiba, dengan gaji aktual yang jauh di bawah angka yang dijanjikan.

Target 18.500 pejuang asing

Yaman hanyalah satu titik dalam peta rekrutmen global Rusia. Badan intelijen militer Ukraina melaporkan pada akhir April bahwa Rusia menargetkan rekrutmen setidaknya 18.500 warga negara asing sepanjang 2026, angka tahunan tertinggi sejak invasi besar-besaran dimulai pada 2022. 

Rekrutan membawa amunisi selama pelatihan di lapangan tembak di wilayah Rostov-on-Don di Rusia selatan, Selasa, 4 Oktober 2022. | AP PHOTO

Per Maret, otoritas Ukraina telah mengidentifikasi lebih dari 27.000 pejuang asing dari lebih 130 negara yang telah bergabung dalam barisan Rusia.

International Federation for Human Rights (FIDH) menggambarkan sistem ini sebagai sesuatu yang secara sengaja membidik kelompok paling rentan. "Migran tanpa dokumen, tahanan, pekerja tidak tetap, bahkan mahasiswa asing," tulis laporan lembaga tersebut.

Kedekatan Moskwa dengan Houthi juga menguntungkan kedua pihak. Rusia mendapat pejuang berpengalaman tempur dari pasar tenaga kerja berbiaya rendah, sementara Houthi mempererat hubungan dengan Kremlin demi mengakses senjata canggih, rudal antikapal, dan intelijen satelit Rusia untuk operasi di Laut Merah.

Biaya ditanggung keluarga

Di balik angka-angka rekrutmen itu, keluarga para pejuang Yaman melaporkan kematian, penghilangan paksa, dan pesan putus asa dari anggota keluarga yang terjebak dalam kontrak satu tahun yang tak bisa mereka tinggalkan. 

Seorang pemuda dari provinsi Ibb tercatat tewas saat bertempur bersama pasukan Rusia di Ukraina, berdasarkan laporan yang didokumentasikan pada Februari lalu.

Seorang pejabat militer senior Ukraina menyebut lebih dari 5.000 warga negara asing yang direkrut tentara Rusia telah tewas dalam pertempuran. FIDH memperkirakan satu dari lima rekrutan asing mungkin tidak selamat dari penugasan mereka.

"Penggunaan pejuang asing oleh Rusia bukanlah fenomena yang sepele maupun spontan," kata Alexis Deswaef, presiden FIDH.