![]() |
| Petugas memuat bantuan kemanusiaan ke pesawat kargo dalam operasi logistik udara internasional. | WHO |
Uni Eropa meluncurkan jembatan udara kemanusiaan untuk mengirim 100 ton bantuan medis ke wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC) yang tengah dilanda wabah Ebola. Bantuan itu dikirim ketika penyebaran virus Bundibugyo terus meluas dan memicu status kewaspadaan tertinggi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Operasi yang dijalankan bersama UNICEF tersebut menyalurkan obat-obatan, alat pelindung diri, perlengkapan pengendalian infeksi, tenda darurat, hingga peralatan untuk tenaga kesehatan di garis depan. Distribusi bantuan dipusatkan di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, salah satu episentrum wabah.
WHO menetapkan wabah Ebola di DRC sebagai Public Health Emergency of International Concern pada 17 Mei, dua hari setelah otoritas kesehatan setempat mengumumkan kemunculan kasus yang disebabkan oleh virus Bundibugyo. Strain ini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui secara resmi.
Wabah awalnya terdeteksi di Provinsi Ituri, lalu menyebar ke North Kivu, South Kivu, hingga melintasi perbatasan ke Uganda. Data terbaru otoritas DRC per 25 Mei mencatat 105 kasus terkonfirmasi dengan 10 kematian. Di luar itu, terdapat 906 kasus suspek dengan 223 kematian.
Uganda juga melaporkan tujuh kasus Ebola, termasuk satu korban meninggal dunia.
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyebut risiko penularan ke kawasan Uni Eropa dan Wilayah Ekonomi Eropa tetap sangat rendah. Penilaian itu didasarkan pada karakter penularan Ebola yang membutuhkan kontak langsung dengan cairan tubuh pasien bergejala.
Di Italia, dua kasus suspek yang melibatkan pelancong dari Uganda sempat diperiksa pada 25 Mei. Hasil uji laboratorium kemudian menyingkirkan dugaan infeksi Ebola.
Komisi Eropa mengalokasikan €15 juta untuk mendukung respons darurat di DRC dan Uganda. Dana itu digunakan untuk layanan kesehatan, logistik kemanusiaan, hingga dukungan lapangan bagi petugas medis.
![]() |
| Personel yang mengenakan rompi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang mengawasi pengiriman bantuan kemanusiaan. | WHO |
Brussels juga menyalurkan tambahan €7,4 juta melalui kerja sama dengan WHO guna mendukung pengembangan vaksin dan pengobatan untuk strain Bundibugyo. Sepanjang 2026, Uni Eropa telah menggelontorkan lebih dari €81 juta untuk bantuan kemanusiaan di kawasan Great Lakes Afrika.
WHO bersama Africa CDC kini menjalankan rencana respons enam bulan senilai US$319 juta yang mencakup pengawasan epidemiologi, pengobatan pasien, pelacakan kontak, dan kesiapsiagaan di 10 negara berisiko tinggi.
UNICEF menetapkan wabah ini sebagai kedaruratan Level 3, klasifikasi tertinggi dalam sistem tanggap darurat lembaga tersebut. Hingga 18 Mei, hampir 50 ton perlengkapan pencegahan infeksi telah dimobilisasi ke wilayah terdampak.
Situasi di timur DRC turut memperumit penanganan wabah. Kawasan itu masih dilanda konflik bersenjata berkepanjangan dan menampung lebih dari 5,8 juta pengungsi internal yang menghadapi keterbatasan akses pangan, air bersih, dan layanan kesehatan dasar.


0Komentar