kapal selam kelas Dosan Ahn Changho (KSS-III) milik Angkatan Laut Republik Korea. | ROK NAVY

Korea Selatan pada Selasa mengumumkan rencana mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir untuk menghadapi ancaman rudal dan nuklir berbasis kapal selam Korea Utara.

Program ini secara resmi dinamai "Jangbogo-N", dengan huruf "N" merupakan singkatan dari "next generation" dan "nuclear-powered". Nama ini mewarisi semangat kapal selam pertama Korea Selatan, ROKS Jangbogo (SS-061), sekaligus melambangkan generasi berikutnya yang mengintegrasikan propulsi nuklir dan teknologi canggih baru.

Pengumuman dibuat dalam rapat perdana Future Defense Strategy Committee yang digelar di Komando Kapal Selam Angkatan Laut di Jinhae, Provinsi Gyeongsang Selatan. Rapat dihadiri langsung Presiden Lee Jae-myung, sementara Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back mempresentasikan rencana pengembangan tersebut.

Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel) mengatakan kapal selam bertenaga nuklir pertama diperkirakan diluncurkan pada pertengahan 2030-an dan mulai dioperasikan pada akhir dekade tersebut.

Pernyataan itu menjadi pengumuman resmi pertama Korsel terkait proyek tersebut sejak Presiden Lee Jae-myung meminta izin kepada Presiden AS Donald Trump pada pertemuan puncak Oktober lalu untuk memperoleh pasokan bahan bakar kapal selam nuklir. Trump dilaporkan menyetujui pengembangan kapal selam nuklir tersebut dalam pertemuan itu.

"Kapal selam bertenaga nuklir memiliki kemampuan operasional yang jauh lebih unggul dibanding kapal selam diesel-elektrik konvensional, termasuk kemampuan beroperasi lebih lama di bawah air dan manuver yang tinggi," sebut pernyataan itu.

Presiden Lee menyatakan proyek ini merupakan "simbol tekad Korea Selatan untuk bertanggung jawab sendiri atas perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea." Kapal selam tersebut akan memainkan peran penting dalam menghadapi ancaman Korea Utara (Korut), khususnya dalam meningkatkan kemampuan pengawasan dan pelacakan bawah air terhadap kapal selam Korea Utara.

Dari sisi teknis, kapal selam Jangbogo-N diperkirakan memiliki bobot sekitar 5.000 ton, jauh lebih besar dibanding armada kapal selam diesel-elektrik yang ada saat ini. Korsel akan menggunakan uranium dengan pengayaan rendah di bawah 20 persen sebagai bahan bakar. Reaktor dirancang untuk operasi siklus panjang guna meminimalkan kebutuhan penggantian bahan bakar nuklir selama masa dinas.

Platform dan sistem propulsi akan memanfaatkan teknologi yang telah terakumulasi dari sektor tenaga nuklir sipil dan industri perkapalan Korea Selatan, guna memastikan tingkat keandalan dan keamanan yang tinggi. Seluruh proses pengembangan dan pembangunan kapal selam juga akan dilakukan di dalam negeri guna memastikan kemandirian dan stabilitas pengadaan, pemeliharaan, serta perbaikan.

Dalam rapat kabinet sebelumnya, Lee mengatakan Korsel harus mempercepat pemanfaatan kecerdasan buatan dan teknologi drone serta melanjutkan pengembangan kapal selam bertenaga nuklir sebagai aset strategis utama pertahanan masa depan.

Kementerian Pertahanan itu menegaskan bahwa Korsel tidak akan mengembangkan senjata nuklir dalam bentuk apapun. Korsel juga berkomitmen memenuhi kewajiban nonproliferasi nuklir melalui konsultasi erat dengan AS, serta akan bekerja sama dengan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) untuk menetapkan mekanisme pengawasan yang berlaku bagi kapal selam nuklir.

Terkait peran AS, Amerika Serikat diperkirakan akan membantu penyediaan bahan bakar, namun tidak kemungkinan besar tidak akan berbagi teknologi reaktor dengan Korea Selatan. Seoul dan Washington sedang mempersiapkan pembentukan kelompok kerja bilateral bulan depan untuk membahas kerja sama kapal selam nuklir, termasuk soal bahan bakar dan revisi terkait perjanjian kerja sama nuklir.

Saat ini, Angkatan Laut Korea Selatan mengoperasikan armada kapal selam yang terdiri dari sembilan kapal selam kelas Jangbogo tipe diesel-elektrik, dan tujuh kapal selam kelas Son Won-il yang dilengkapi sistem propulsi independen udara (AIP). Kehadiran kapal selam bertenaga nuklir Jangbogo-N nantinya akan menjadi lompatan besar dalam kemampuan pertahanan maritim Korea Selatan.