![]() |
| Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengikuti upacara penyambutan di Bandara Internasional Beijing Capital saat kunjungannya ke China pada Rabu (13/5). | REUTERS |
Donald Trump mendarat di Beijing, Rabu malam, memulai kunjungan kenegaraan dua hari yang menjadi lawatan pertamanya ke China sejak 2017 sekaligus kunjungan perdana seorang presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat dalam hampir sembilan tahun terakhir.
Agenda utamanya adalah perundingan langsung dengan Presiden Xi Jinping yang mencakup perdagangan, Taiwan, mineral tanah jarang, kecerdasan buatan, hingga konflik yang masih berlangsung di Iran.
Trump tak datang sendirian. Ia membawa 16 chief executive perusahaan-perusahaan raksasa AS, di antaranya Elon Musk (Tesla), Tim Cook (Apple), Larry Fink (BlackRock), Kelly Ortberg (Boeing), Jane Fraser (Citi), David Solomon (Goldman Sachs), dan Cristiano Amon (Qualcomm). Komposisi delegasi ini mencerminkan bobot ekonomi yang ingin ditawarkan Trump dalam perundingan.
"Kita adalah dua negara adidaya," kata Trump kepada wartawan sebelum bertolak dari Gedung Putih, Selasa. "Kita adalah negara terkuat di Bumi dari segi militer. China dianggap berada di posisi kedua."
Gedung Putih mengisyaratkan Trump akan mendorong pembentukan Dewan Perdagangan dan Dewan Investasi antarpemerintah baru. Pihak China diperkirakan akan mengumumkan komitmen pembelian produk pertanian AS, energi, dan pesawat Boeing.
Kunjungan ini bukan tiba-tiba. Pondasinya diletakkan saat Trump dan Xi bertemu di Busan, Korea Selatan, Oktober 2025 — pertemuan yang menghasilkan jeda satu tahun dalam perang dagang, meski sejumlah tarif dan kontrol ekspor tetap diberlakukan. Dua hari sebelum Trump tiba di Beijing, Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sudah lebih dahulu bertemu di Seoul pada 12–13 Mei untuk mematangkan kerangka perundingan.
Di balik agenda perdagangan, Xi diprediksi akan langsung menekan Trump soal Taiwan — isu yang Beijing sebut sebagai red line. Yang menggantung adalah paket senjata senilai US$14 miliar untuk Taiwan yang masih menunggu persetujuan akhir Trump.
Para analis menilai Xi akan berusaha mempengaruhi atau memangkas penjualan tersebut, langkah yang jika terjadi akan membalikkan kebijakan luar negeri AS selama beberapa dekade.
China juga memegang kartu lain: dominasi atas mineral tanah jarang. Sejak Beijing menghentikan sebagian besar ekspornya pada April 2025, harga sejumlah logam tersebut melonjak hingga 100 kali lipat, menurut New York Times. Gencatan senjata tanah jarang yang tercapai bersamaan dengan kesepakatan Oktober masih berlaku, meski kelanjutannya belum pasti.
Washington telah berupaya mengurangi ketergantungan itu dengan menandatangani 27 perjanjian mineral kritis bilateral bersama negara-negara sekutu, serta meluncurkan inisiatif penimbunan senilai US$12 miliar yang diberi nama Project Vault.
Trump datang ke Beijing dengan posisi hukum yang tak sepenuhnya kokoh di dalam negeri. Mahkamah Agung AS awal tahun ini membatalkan tarif terluasnya.
Pada 7 Mei, Pengadilan Perdagangan Internasional AS kembali memutuskan tarif global 10% penggantinya ilegal berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974. Pemerintahan Trump kini mengejar tarif berbasis industri tertentu melalui kewenangan hukum alternatif sebagai langkah cadangan.
Keterbatasan itu ikut membentuk ekspektasi. Michael Sobolik, peneliti senior di Hudson Institute, menilai Trump dan Xi sama-sama bermain panjang dengan kalkulasi berbeda.
"Presiden Trump menggunakan tarif bukan sebagai senjata melawan China, melainkan sebagai alat tawar untuk mengamankan perjanjian perdagangan," katanya. "Xi Jinping memposisikan dirinya untuk memenangkan perang dingin melawan Amerika Serikat."

0Komentar