Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan perluasan drastis atas definisi operasional Selat Hormuz, sepuluh kali lipat dari sebelumnya, tepat ketika upaya damai dengan Amerika Serikat menemui jalan buntu.
Mohammad Akbarzadeh, wakil direktur politik Angkatan Laut IRGC, menyatakan bahwa selat tersebut kini tidak lagi dipandang sebagai jalur sempit di sekitar segelintir pulau. Zona operasional Iran kini mencakup wilayah sepanjang 200 hingga 300 mil, membentang dari kota Jask di timur hingga Pulau Siri di barat.
Kantor berita Tasnim menggambarkannya sebagai "bulan sabit yang sempurna." Sebelumnya, lebar zona tersebut hanya berkisar 20 hingga 30 mil. Ini merupakan pengumuman kedua semacam itu sejak konflik dengan AS dan Israel dimulai.
Negara-negara Teluk bereaksi keras. Gulf News melaporkan sejumlah negara di kawasan itu memperingatkan bahwa langkah Iran melanggar hukum maritim internasional.
Di Washington, Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah proposal perdamaian balasan Teheran. Di media sosial, ia menulis, "Saya tidak suka ini — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA." Saat berbicara di Gedung Putih, Trump menyebut dokumen itu "sampah" dan mengaku belum selesai membacanya.
Proposal Iran memuat tuntutan ganti rugi perang, pengakuan kedaulatan atas selat, pencabutan sanksi, hingga pengakhiran blokade angkatan laut AS. Ketua parlemen Iran merespons bahwa Washington "tidak punya pilihan selain menerima" rencana 14 poin tersebut.
Trump kemudian menyebut gencatan senjata berada dalam kondisi "kritis."
Pentagon, menurut NBC News, tengah mempertimbangkan penggantian nama operasi dari Operation Epic Fury menjadi Operation Sledgehammer bila pertempuran besar kembali pecah. Langkah itu, menurut pejabat AS, secara efektif akan mereset jam otorisasi kongres bagi pemerintahan Trump, meski para pejabat menegaskan Trump belum memerintahkan dimulainya kembali operasi tempur skala besar.
Yang memperumit situasi adalah bocornya penilaian intelijen rahasia AS ke The New York Times. Dokumen itu menyebut Iran masih memegang sekitar 70% cadangan rudalnya sebelum perang dan telah mendapatkan kembali akses ke 30 dari 33 instalasi rudalnya di sepanjang selat. Temuan ini berbenturan langsung dengan pernyataan Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang meyakinkan publik bahwa militer Iran telah "dihancurkan."
Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menyebut klaim pemulihan militer Iran itu "tidak berdasar." Trump sendiri melabeli bocoran intelijen tersebut sebagai "pengkhianatan virtual."
Laporan yang sama mengungkap cadangan amunisi AS turut terkuras signifikan. Sekitar 1.100 rudal jelajah siluman jarak jauh, lebih dari 1.000 rudal Tomahawk, dan lebih dari 1.300 pencegat Patriot telah digunakan, stok yang menurut para pejabat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diisi kembali.
Trump bertolak ke Beijing pada Selasa. Pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping diperkirakan turut menyentuh krisis Iran.

0Komentar