![]() |
| President AS Donald Trump berbicara di Kantor Oval, di Gedung Putih di Washington, DC, AS, 23 April 2026. KYLIE COOPER/REUTERS |
Presiden Donald Trump menyatakan pasukan Amerika Serikat perlu masuk ke Iran untuk mengambil uranium yang diperkaya dan diyakini terkubur di lokasi nuklir yang sebelumnya diserang. Pernyataan itu membuka kemungkinan operasi darat besar pertama dalam konflik yang melibatkan AS dan Iran.
Trump menyampaikan hal tersebut saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih. Ia menilai langkah itu diperlukan untuk mengamankan material yang berpotensi digunakan sebagai senjata nuklir.
"Sekarang kita akan menanggung risiko, karena kita harus melakukan perjalanan ke Iran untuk mengambil senjata nuklir itu," kata Trump.
Program nuklir Iran belum lumpuh
Pernyataan itu muncul ketika laporan Reuters mengungkap penilaian intelijen terbaru AS yang menyebut kemampuan Iran membangun senjata nuklir tidak banyak berubah sejak musim panas lalu.
Menurut tiga sumber yang mengetahui laporan rahasia tersebut, Iran diperkirakan masih membutuhkan sekitar sembilan hingga 12 bulan untuk memproduksi senjata nuklir jika keputusan itu diambil. Estimasi ini sama seperti setelah serangan awal Juni 2025 terhadap fasilitas di Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Analisis tersebut juga menyebut serangan gabungan AS-Israel hanya menimbulkan “kerusakan minimal” pada program nuklir Iran. Salah satu penyebabnya, kampanye militer itu tidak sepenuhnya berfokus pada target nuklir utama.
Pejabat intelijen mengatakan kepada Reuters bahwa untuk benar-benar melumpuhkan program tersebut, diperlukan penghancuran fisik fasilitas inti atau pemindahan stok uranium yang telah diperkaya tinggi keluar dari Iran.
Klaim Trump berseberangan dengan fakta lapangan
Temuan ini berseberangan dengan klaim Trump sebelumnya yang menyebut kemampuan nuklir Iran telah “dihancurkan sepenuhnya” dalam operasi militer yang dikenal sebagai Midnight Hammer pada Juni lalu.
Di sisi lain, Trump juga mengakui masih ada sekitar 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60% yang tertimbun di bawah puing-puing. Jumlah itu dinilai cukup untuk menghasilkan hingga 10 senjata nuklir jika diperkaya lebih lanjut.
Para perencana militer memperingatkan operasi untuk mengambil material tersebut tidak sederhana. Misi itu bisa melibatkan ratusan hingga ribuan personel, penggunaan alat berat, pembangunan landasan pacu sementara, serta operasi selama berminggu-minggu di wilayah yang dinilai berisiko tinggi.
Mantan komandan militer AS, Joseph Votel, mengatakan kepada The Washington Post bahwa operasi militer memang memungkinkan, namun penanganan oleh inspektur International Atomic Energy Agency akan lebih efektif jika dilakukan dalam kondisi gencatan senjata.
Jalur diplomasi kian buntu
Upaya diplomatik antara Washington dan Teheran juga belum menunjukkan kemajuan. Pada 1 Mei, Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal terbaru Iran dalam negosiasi.
Beberapa hari sebelumnya, ia bahkan membatalkan pengiriman utusan ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan, dengan alasan adanya perpecahan di dalam kepemimpinan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengakui keberadaan uranium yang terkubur tersebut. Namun ia menegaskan bahwa memindahkan material itu ke AS “bukan menjadi pilihan” bagi Teheran.
Trump menyebut Iran juga belum dapat mengakses uranium tersebut dalam waktu dekat. Ia mengatakan Teheran membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mencapainya dan menegaskan pasukan AS tidak akan membiarkan proses penggalian itu terjadi.

0Komentar