Seorang prajurit Ukraina dari Dinas Penjaga Perbatasan Negara mendemonstrasikan drone dengan granat tiruan di Bakhmut, 9 Februari 2023. (Foto AFP)


Hubungan tidak resmi antara Taiwan dan Ukraina kian berkembang di tengah perang yang berlangsung di Eropa Timur. Kolaborasi ini tidak dibangun lewat jalur diplomatik, melainkan melalui relawan, jaringan sipil, hingga rantai pasok industri drone yang bergerak senyap.

Perang Rusia–Ukraina sejak 2022 menjadi titik awal terbentuknya koneksi tersebut. Sejumlah warga Taiwan, termasuk mantan militer, datang langsung ke Ukraina untuk terlibat atau mempelajari perang modern—terutama penggunaan drone di garis depan. Pengalaman itu dipandang relevan bagi Taiwan yang menghadapi tekanan militer dari China.

Salah satunya adalah Lee, warga Taiwan yang sebelumnya bekerja sebagai kurir. Ia kini bergabung dengan Angkatan Darat Ukraina. Dalam wawancara dengan The New York Times, ia menyebut keterlibatannya sebagai investasi pengalaman untuk masa depan.

“Perang dengan China pasti akan terjadi suatu hari nanti, dan saat itu pengalaman saya akan sangat berharga,” kata Lee, yang hanya menyebut nama depannya sesuai protokol militer.

Keterlibatan individu seperti Lee mencerminkan pola yang lebih luas. Tanpa hubungan diplomatik resmi—Ukraina tetap berpegang pada kebijakan “Satu China” sejak 1992—interaksi kedua pihak berlangsung lewat jalur tidak formal. Taiwan juga berhati-hati membuka kerja sama terbuka karena keterkaitan ekonominya dengan Beijing.

Meski begitu, pertukaran pengetahuan militer terus mengalir. Lee menyebut rekan-rekannya di Taiwan aktif mencari informasi tentang taktik drone yang digunakan di Ukraina. Ia mendorong adopsi sistem tempur asimetris berbasis teknologi tanpa awak.

Ia menggambarkan kebutuhan Taiwan untuk mengembangkan “arsenal inovatif berupa robot terbang, berenang, dan merayap yang telah digunakan Ukraina untuk menyeimbangkan kekuatan.”

Di luar individu, hubungan ini juga terlihat dalam perdagangan. Laporan Research Institute for Democracy, Society and Emerging Technology (DSET) di Taipei pada April mencatat lonjakan ekspor drone Taiwan. Sepanjang 2025, hampir 130.000 unit dikirim, dengan tujuan utama Polandia dan Republik Ceko—dua negara yang menjadi jalur logistik ke Ukraina.

Volume ekspor pada kuartal pertama 2026 bahkan sudah melampaui total tahun sebelumnya.

Analis kebijakan DSET, Samara Duerr, menilai Ukraina kini menjadi laboratorium terbesar untuk teknologi drone. Ia mencatat kontribusi drone terhadap korban di medan perang mencapai sekitar 95%.

“Ukraina telah menjadi medan uji coba terbesar dan paling canggih,” ujarnya.

Duerr juga menyoroti ketergantungan industri drone Ukraina pada komponen asal China. Kondisi ini membuka ruang bagi Taiwan untuk masuk sebagai pemasok alternatif, terutama untuk chip, baterai, dan motor.

Peneliti DSET lainnya, Lin Ting-wei, menyebut keterlibatan Taiwan dalam rantai pasok Eropa berlangsung nyaris tanpa sorotan publik.

“Sebagian besar yang terjadi tidak terlalu diketahui publik dan dilakukan dengan sangat rendah profil,” kata Lin.

Di dalam negeri, perkembangan ini memantik kritik terhadap kesiapan militer Taiwan. Sejumlah analis pertahanan dan pejabat pensiunan menilai adopsi strategi perang asimetris berjalan lambat, meski ancaman dari China terus meningkat.

Sepanjang April saja, militer China tercatat melakukan 169 pelanggaran ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan. Di sisi lain, anggaran pertahanan khusus yang dirancang untuk memperkuat kemampuan asimetris masih tertahan di parlemen akibat kebuntuan politik.

Dalam situasi itu, jaringan informal dengan Ukraina menjadi jalur alternatif untuk belajar dan beradaptasi. Namun tanpa dukungan resmi negara, kerja sama ini tetap bergantung pada inisiatif individu dan koneksi non-pemerintah.