mobil listrik Wuling Air EV


Pemerintah Indonesia bakal menyalurkan paket insentif kendaraan listrik dan sejumlah stimulus ekonomi lain setelah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Data tersebut menjadi pijakan pemerintah untuk menjaga momentum ekonomi, di tengah tekanan global yang masih membayangi. Pertumbuhan kuartal pertama ditopang konsumsi domestik selama Ramadan dan Lebaran, serta belanja pemerintah yang meningkat.

Fokus kebijakan diarahkan pada percepatan adopsi kendaraan listrik dan penguatan sektor industri padat karya. Pemerintah menyiapkan insentif awal untuk 200.000 unit kendaraan listrik, terdiri dari 100.000 mobil dan 100.000 sepeda motor.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut insentif akan diberikan bertahap sesuai kuota. 

“Kami akan memberikan insentif, dengan target awal 100.000 mobil listrik, dan kami akan mencairkan lebih banyak setelah kuota terpenuhi,” ujarnya dalam konferensi pers APBN di Jakarta.

Untuk sepeda motor listrik, nilai bantuan diperkirakan sekitar Rp5 juta per unit. Skema ini melanjutkan upaya pemerintah mendorong transisi energi sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Di sisi fiskal, pemerintah memilih menahan kenaikan pajak. Purbaya menegaskan fokus kebijakan bukan pada peningkatan tarif, melainkan optimalisasi penerimaan. 

“Fokus pemerintah saat ini adalah meningkatkan kepatuhan dan menutup kebocoran pajak, bukan menaikkan tarif,” kata dia.

Kebijakan ini tercermin dari sejumlah langkah, termasuk mempertahankan tarif PPN efektif di level 11%, menunda cukai minuman berpemanis, serta tidak menaikkan cukai tembakau sepanjang 2026.

Stimulus juga diarahkan ke sektor industri padat karya yang menghadapi tekanan ekspor. Pemerintah menyiapkan fasilitas pinjaman lunak untuk industri seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur, guna membantu modernisasi mesin dan meningkatkan daya saing.

Program ini melanjutkan skema sebelumnya senilai Rp2 triliun yang disalurkan melalui Indonesia Eximbank, dengan bunga sekitar 6% bagi perusahaan berorientasi ekspor. Selain itu, insentif pajak penghasilan bagi pekerja di sektor-sektor tersebut diperpanjang hingga 2026 melalui regulasi Kementerian Keuangan.

Meski capaian pertumbuhan melampaui ekspektasi pasar, sejumlah lembaga internasional mengingatkan risiko perlambatan ke depan. 

The Business Times melaporkan ketegangan global dan tekanan fiskal domestik berpotensi menahan laju ekonomi pada kuartal berikutnya. Bank Dunia bahkan telah memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia 2026 menjadi 4,7%.

Purbaya mengakui adanya tantangan eksternal, termasuk konflik di Timur Tengah. Namun ia menyatakan dampaknya terhadap ekonomi domestik masih terbatas, dengan indikator seperti surplus perdagangan yang justru melebar pada Maret.