Pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. | Kenny Holston/Pool via REUTERS


Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyepakati bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam pertemuan bilateral di Beijing, Rabu (13/5). Kedua pemimpin juga menegaskan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan global di tengah perang AS-Iran yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.

Kesepakatan itu menjadi hasil paling konkret dari pertemuan puncak dua hari yang berlangsung di Balai Agung Rakyat. Trump tiba di Beijing dalam kunjungan pertamanya ke China sejak 2017 dan menggelar pembicaraan tertutup dengan Xi selama sekitar dua jam.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Xi menolak segala upaya untuk mengenakan tarif terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz. Menurut laporan Bloomberg, Xi juga menunjukkan minat untuk meningkatkan pembelian minyak AS guna mengurangi ketergantungan China terhadap jalur energi Timur Tengah.

Namun, pernyataan resmi pemerintah China tidak menyebut energi sebagai topik utama pembahasan. Beijing hanya menyatakan kedua pemimpin bertukar pandangan mengenai situasi Timur Tengah.

Isu Selat Hormuz memang menjadi perhatian utama dalam beberapa pekan terakhir. Jalur pelayaran strategis itu mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan telah mengalami gangguan selama lebih dari 10 minggu akibat konflik di kawasan Teluk.

Kesepahaman terbaru Washington dan Beijing melanjutkan komunikasi diplomatik yang sudah dibangun sebelumnya. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada April lalu sepakat bahwa “tidak ada negara atau organisasi mana pun yang boleh memungut biaya untuk melintas di jalur perairan internasional seperti Selat Hormuz,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott.

Sebelum bertolak ke Beijing, Trump sempat meminta China menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran. Meski demikian, ia meremehkan kebutuhan dukungan Beijing dalam menghadapi Iran.

“Saya rasa kita tidak membutuhkan bantuan apa pun terkait Iran. Kita akan menang dengan satu cara atau lainnya, secara damai maupun tidak,” ujar Trump kepada wartawan di Washington.

Pertemuan tersebut juga diwarnai pembahasan soal Taiwan. Dalam keterangan resmi China, Xi memperingatkan Trump bahwa kesalahan penanganan isu Taiwan dapat memicu “benturan bahkan konflik” antara kedua negara.

Iran sendiri nyaris tidak disebut dalam pernyataan resmi Beijing. Sejumlah analis menilai hal itu mencerminkan kehati-hatian China agar tidak terlihat berpihak kepada Washington melawan Teheran, yang selama ini menjadi mitra strategis sekaligus pemasok utama minyak bagi Beijing.

Penasihat senior International Crisis Group, Ali Vaez, mengatakan perang AS-Iran justru memberi Xi ruang pengaruh yang lebih besar di panggung global.

“Perang ini telah memberikan Xi sumber-sumber pengaruh yang tidak akan pernah ia bayangkan akan dimilikinya pada awal tahun ini,” kata Vaez kepada Associated Press.

Ketegangan di Teluk juga mulai mengubah pola perdagangan energi. Data Kpler yang dikutip Asia Times menunjukkan hampir 600.000 barel minyak mentah AS per hari dikirim menuju China pada April 2026. Angka itu berbalik tajam dibanding 2025, ketika impor minyak AS oleh China sempat turun ke nol akibat perang tarif kedua negara.

Sebelum konflik dagang menghantam hubungan ekonomi Washington-Beijing, ekspor minyak dan LNG AS ke China tercatat bernilai sekitar US$8,4 miliar pada 2024.