![]() |
| Presiden AS Donald Trump telah berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping terkait penangkapan tiga bintang basket muda Amerika di Shanghai. AP PHOTO |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengangkat isu penjualan senjata ke Taiwan dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini, sebuah langkah yang langsung memantik kekhawatiran soal nasib komitmen keamanan Washington terhadap pulau tersebut.
Trump dijadwalkan bertolak ke Beijing untuk kunjungan kenegaraan dua hari pada 14–15 Mei, menjadikannya presiden AS pertama yang menginjakkan kaki di China dalam hampir sembilan tahun terakhir. Agenda pembicaraan mencakup perdagangan, kontrol ekspor logam tanah jarang, perang di Iran, kecerdasan buatan, hingga Taiwan.
"Saya akan membahas hal itu dengan Presiden Xi," kata Trump kepada para wartawan di Gedung Putih, Senin. "Presiden Xi ingin kami menghentikannya, dan saya akan mendiskusikan hal itu. Itu salah satu dari banyak hal yang akan saya bicarakan."
Trump mengakui adanya tekanan dari Beijing, namun enggan berkomitmen untuk melanjutkan pengiriman senjata ke pulau yang memerintah diri sendiri itu.
Paket senjata US$14 miliar tertahan
Pernyataan Trump muncul bersamaan dengan desakan dari Senat. Sekelompok delapan senator lintas partai merilis surat bertanggal 8 Mei yang mendesak Trump untuk segera memberitahu Kongres soal paket senjata senilai US$14 miliar bagi Taiwan, paket yang sudah mendapat persetujuan awal dari para legislator pada Januari 2025, namun masih tertahan di Departemen Luar Negeri selama berbulan-bulan.
Surat itu dipimpin Senator Jeanne Shaheen dan Thom Tillis, dan ditandatangani enam rekan mereka. Mereka menyebut penjualan senjata tersebut "sangat penting bagi kepentingan nasional kita sendiri."
Paket ini mencakup rudal pencegat canggih dan akan melengkapi kesepakatan senjata senilai US$11 miliar yang diumumkan pemerintahan Trump pada Desember 2025, yang merupakan penjualan senjata tunggal terbesar yang pernah dilakukan AS ke Taiwan.
Legislatif Taiwan sendiri membuka jalan bagi pembelian itu pekan lalu dengan menyetujui RUU belanja pertahanan khusus senilai US$25 miliar.
Komitmen lama AS masuk meja perundingan
Kesediaan Trump membahas isu ini langsung dengan Xi memantik alarm di kalangan analis dan diplomat. Berdasarkan "Enam Jaminan" tahun 1982, AS berjanji tidak akan berkonsultasi dengan Beijing soal penjualan senjata ke Taiwan, sehingga sikap Trump ini merupakan penyimpangan dari praktik yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Kekhawatiran yang menguat adalah kebijakan soal Taiwan bisa dijadikan kartu tukar dalam negosiasi yang lebih luas, baik soal perdagangan maupun Iran.
Para pejabat Taiwan secara diam-diam telah meminta jaminan "tanpa kejutan" dari Washington. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Los Angeles Times bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan "tetap sama seperti pada masa pemerintahan pertama Trump," yang berpijak pada Undang-Undang Hubungan Taiwan, tiga komunike bersama, dan Enam Jaminan.
Ketika ditanya soal kemungkinan China merebut Taiwan, Trump menyinggung invasi Rusia ke Ukraina. "Saya rasa itu tidak akan terjadi. Saya pikir semuanya akan baik-baik saja. Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Xi. Dia tahu saya tidak ingin hal itu terjadi," katanya.

0Komentar