Sebuah balok dengan simbol, nomor atom dan nomor massa unsur Tungsten (W), dalam ilustrasi ini diambil 21 Januari 2026. | REUTERS/DADO RUVIC

Tiongkok menghentikan sepenuhnya ekspor sejumlah produk tungsten ke Jepang sejak Februari hingga April 2026, menandai pertama kalinya angka ekspor tercatat nol sejak statistik terkait mulai dikumpulkan pada 2015. 

Data bea cukai Tiongkok yang dilaporkan Nikkei Asia itu menegaskan betapa cepatnya ketegangan diplomatik kedua negara berubah menjadi tekanan nyata pada rantai pasokan industri.

Pembekuan ini tidak datang tiba-tiba. Pada Januari 2026, Kementerian Perdagangan Tiongkok memperketat kontrol ekspor barang keperluan ganda, melarang pengiriman berbagai material strategis termasuk tungsten, molibdenum, dan magnet tanah jarang kepada entitas yang dinilai terkait pengguna akhir militer Jepang atau berpotensi memperkuat kemampuan militer negara itu. 

Ketegangan bilateral sendiri makin memburuk setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyinggung kemungkinan situasi darurat di Taiwan.

Kini hanya 15 perusahaan di Tiongkok yang secara hukum boleh mengekspor produk tungsten, dan setiap pesanan dinilai satu per satu oleh pemerintah dengan waktu pemrosesan satu hingga dua bulan.

Kelangkaan pasokan itu langsung memantik lonjakan harga yang tajam. Harga tungsten melonjak enam hingga sembilan kali lipat dalam setahun terakhir tergantung tolok ukur yang dipakai. 

Ferro-tungsten di Rotterdam yang setahun lalu diperdagangkan di kisaran US$45-46 per kilogram kini menembus US$200-210 per kilogram. Harga ammonium paratungstate di Eropa bahkan mencapai rekor tertinggi, didorong oleh permintaan dari industri kecerdasan buatan yang terus tumbuh.

Para produsen Jepang bergerak cepat mencari jalan keluar. Impor tungsten scrap asal Amerika Serikat pada Maret 2026 melonjak sekitar sepuluh kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Produsen alat potong memperluas pengadaan dari pemasok Eropa, meski memperingatkan bahwa kenaikan harga bagi konsumen sudah tidak terelakkan.

Tiongkok menguasai lebih dari 80% produksi tambang tungsten global beserta produk olahannya. Dominasi itu kini semakin terang-terangan digunakan Beijing sebagai instrumen geopolitik di tengah meningkatnya gesekan dengan AS maupun Jepang.

Uni Eropa merespons dengan memasukkan tungsten, logam tanah jarang, dan galium ke dalam daftar pendek untuk cadangan strategis mineral kritis pertama yang dikelola bersama, dengan pembahasan penyimpanan cadangan tengah berlangsung di sejumlah pelabuhan besar termasuk Rotterdam.