Presiden Donald Trump menjawab pertanyaan setelah menandatangani perintah eksekutif di Kantor Oval pada 30 April 2026. | WHITE HOUSE


Presiden Donald Trump membuka kemungkinan menarik sebagian pasukan Amerika Serikat dari Italia di tengah memburuknya hubungan Washington dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni terkait konflik Iran. 

Pernyataan itu memantik kekhawatiran baru di Eropa soal arah kebijakan keamanan AS dan masa depan kehadiran militernya di kawasan.

Trump mengatakan Italia tidak banyak membantu dalam mendukung operasi militer pimpinan AS terhadap Iran. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Washington lebih dulu memerintahkan penarikan sekitar 5.000 tentara dari Jerman dan memberi sinyal pengurangan pasukan lain di Eropa masih mungkin dilakukan.

“Ya, mungkin akan saya lakukan. Kenapa tidak? Italia sama sekali tidak membantu. Spanyol sangat buruk,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih saat ditanya soal kemungkinan pengurangan pasukan di Italia.

Ketegangan antara Trump dan Meloni mulai terbuka sejak pertengahan April. Dalam wawancara telepon dengan harian Italia Corriere della Sera, Trump menyebut sikap Meloni terhadap kebijakan AS “tidak dapat diterima” setelah Roma menolak bergabung dalam operasi militer AS-Israel terhadap Iran.

Hubungan keduanya juga memanas setelah Meloni mengkritik serangan verbal Trump terhadap Paus Leo XIV. Trump saat itu menyebut pemimpin Italia tersebut sebagai sosok yang “pemberani”, tetapi mengaku kecewa dengan sikap Roma terhadap Washington.

Di tengah situasi itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio datang ke Roma pada 7 Mei untuk meredakan ketegangan. Rubio lebih dulu bertemu Paus Leo XIV dan Kardinal Pietro Parolin di Vatikan sebelum menggelar pembicaraan dengan Meloni serta Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani.

Departemen Luar Negeri AS menyebut pertemuan di Vatikan berlangsung sekitar dua setengah jam dan membahas upaya mencapai “perdamaian abadi di Timur Tengah”.

Usai bertemu pejabat Italia, Rubio tetap menekan Roma agar mendukung langkah AS terhadap Iran. Ia menilai upaya Teheran menguasai Selat Hormuz sebagai ancaman serius terhadap keamanan maritim internasional.

Rubio juga meminta sekutu AS menunjukkan dukungan lebih konkret. Menurutnya, respons negara-negara Eropa tidak cukup bila hanya berupa “pernyataan-pernyataan keras”.

Italia mempertahankan posisinya bahwa penggunaan pangkalan militernya untuk operasi ofensif harus mendapat persetujuan parlemen. Pemerintah Meloni juga menilai kampanye pengeboman terhadap Iran bertentangan dengan prinsip konstitusi Italia.

Antonio Tajani kembali menegaskan sikap itu pada Sabtu. “Kami tentu tidak ingin berperang, tetapi kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk memastikan penghormatan terhadap hukum maritim internasional,” ujar Tajani.

Ia mengatakan hubungan Italia dengan AS tetap “kokoh” meski kedua negara berbeda pandangan soal Iran. Roma memilih bergabung dalam koalisi pimpinan Inggris bersama lebih dari 30 negara untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Laporan The Wall Street Journal menyebut Rubio turut memperingatkan bahwa penolakan sekutu terhadap operasi AS telah menciptakan “risiko yang tidak perlu” dan dapat memicu pergeseran strategi Washington terhadap Eropa.

Sebagai panglima tertinggi, Trump memiliki kewenangan memindahkan pasukan AS antarnegara. Namun undang-undang pertahanan terbaru melarang pengurangan jumlah personel AS di Eropa di bawah 76.000 tentara tanpa persetujuan Kongres.