Aktivitas di Tambang Kirovohrad di Ukraina. | EFREM LUKATSKY/AP PHOTO


Intelijen militer Ukraina menemukan dokumen yang memperlihatkan rencana Rusia mengeksploitasi mineral strategis dari setidaknya 18 deposit di wilayah selatan Ukraina yang didudukinya, termasuk titanium, litium, tantalum, niobium, zirkon, molibdenum, dan grafit.

Presiden Volodymyr Zelenskyy mengungkap temuan itu setelah menerima laporan dari Oleh Ivashchenko, kepala Defense Intelligence of Ukraine (GUR), yang merinci niat Rusia terhadap wilayah-wilayah yang diduduki. Menurut Zelenskyy, Rusia berencana menjalankan eksplorasi geologi, diikuti ekstraksi cepat dan ekspor bahan baku dari wilayah-wilayah tersebut.

"Eksplorasi geologi direncanakan, diikuti dengan ekstraksi cepat dan ekspor bahan baku berharga dari setidaknya 18 deposit, termasuk titanium, litium, tantalum, niobium, zirkon, molibdenum, dan grafit," tulis Zelenskyy di akun resminya di X.

Ia menyebut pola ini sebagai pengulangan dari apa yang telah Rusia terapkan di Donbas. "Di wilayah selatan Ukraina yang kini berada di bawah pendudukan, Rusia bermaksud menjalankan proses penjarahan dan deindustrialisasi yang pada hakikatnya sama dengan yang telah mereka terapkan di bagian Donbas yang diduduki," kata Zelenskyy.

Rencana Rusia bukan sekadar dugaan intelijen Ukraina. Strategi Pengembangan Mineral Rusia 2024, dokumen resmi negara yang dikonfirmasi lembaga riset Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), secara eksplisit menyebut perlunya menyelesaikan "integrasi kompleks sumber daya mineral dari Republik Rakyat Donetsk, Republik Rakyat Luhansk, Oblast Zaporizhzhia, dan Oblast Kherson ke dalam ekonomi Rusia."

Sebuah pemandangan menunjukkan jembatan yang hancur, di tengah serangan Rusia ke Ukraina, di kota Pokrovsk di wilayah Donetsk, Ukraina 4 November 2024. REUTERS/INNA VARENYTSIA

Untuk mendukung agenda itu, Kremlin mengalokasikan sekitar US$11,8 miliar bagi pengembangan wilayah pendudukan Ukraina untuk periode 2024 hingga 2026, tiga kali lipat anggaran gabungan 20 wilayah Rusia. 

Menurut laporan Jamestown Foundation, dana itu diarahkan bukan untuk pemulihan warga sipil, melainkan ke integrasi ekonomi, logistik, dan ekstraksi mineral.

Ukraina diperkirakan menyimpan sekitar 5% dari bahan baku paling esensial di dunia. Sekitar 40% deposit mineralnya kini berada di wilayah yang diduduki Rusia sejak 2022, menjadikan perebutan teritorial ini sekaligus perebutan ekonomi jangka panjang.

Nilai mineral di wilayah pendudukan ditaksir antara US$12,5 triliun hingga US$15 triliun oleh Lembaga Ilmu Geologi Ukraina, sementara firma riset risiko global SecDev menyebut angka lebih dari US$12 triliun. 

Namun SIPRI memperingatkan bahwa estimasi-estimasi tersebut masih diperdebatkan, sebagian karena bersandar pada data survei era Soviet dan kerap mencampuradukkan deposit geologis dengan cadangan yang benar-benar layak ditambang secara ekonomi.

Rusia sudah mulai bergerak jauh sebelum pengumuman Zelenskyy. Salah satu langkah terbesar yang tercatat adalah pelelangan deposit bijih emas Bobrikivske di Oblast Luhansk melalui mekanisme negara Rusia. 

Dari Dnipro hingga Donetsk, kawasan dengan nilai mineral tertinggi kini berada di tengah dinamika perang dan perebutan pengaruh geopolitik.

Pada Juni 2025, pasukan Rusia merebut sebuah desa di Oblast Donetsk yang posisinya berdekatan dengan deposit litium yang disebut sebagai salah satu terbesar di Eropa Timur. Pelabuhan Mariupol yang berada di bawah pendudukan juga sudah digunakan untuk mengekspor biji-bijian, produk metalurgi, batu bara, dan tembaga dari wilayah-wilayah yang dikuasai.

Zelenskyy juga menyebut rencana Rusia tak hanya menyasar mineral. Pasukan pendudukan, kata dia, tengah menyusun langkah untuk merampas dan mengekspor hasil panen biji-bijian tahun ini dari wilayah yang dikuasai.

Di tengah ancaman penjarahan sumber daya itu, Ukraina menggencarkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Menurut Ukrainska Pravda, serangan-serangan tersebut telah merugikan Rusia lebih dari US$7 miliar sejak awal 2026, dengan sasaran meliputi kilang minyak, terminal ekspor, dan jalur pipa.

Dampaknya mulai terasa ke dalam. The Moscow Times melaporkan bahwa pusat perkiraan ekonomi yang berafiliasi dengan Kremlin hampir memangkas separuh proyeksi pertumbuhan PDB Rusia untuk 2026 menjadi 0,5 hingga 0,7%, dengan menyebut kerusakan akibat serangan drone terhadap pelabuhan dan kilang minyak sebagai salah satu faktor utama.

Sebuah pemandangan menunjukkan jembatan yang hancur, di tengah serangan Rusia ke Ukraina, di kota Pokrovsk di wilayah Donetsk, Ukraina 4 November 2024. REUTERS/INNA VARENYTSIA

Zelenskyy menyatakan Ukraina sedang "bersiap untuk menghadapi" penyitaan sumber daya tersebut. Ia juga mengisyaratkan adanya rencana operasi lanjutan dengan menyebut bahwa ia telah memberi tugas khusus kepada intelijen terkait sistem pertahanan udara Rusia.

Dimensi internasional dari perebutan mineral ini kian kompleks. Pada Februari 2025, NBC News melaporkan bahwa Rusia sempat menawarkan pemerintahan Trump akses bersama terhadap mineral di wilayah Ukraina yang didudukinya. 

Amerika Serikat dan Ukraina kemudian menandatangani perjanjian mineral mereka sendiri pada Mei 2025, yang memberikan Washington akses istimewa terhadap sumber daya alam Ukraina dengan imbalan pembentukan dana investasi rekonstruksi.

Separuh pendapatan negara Ukraina dari aset sumber daya alam di masa depan akan mengalir ke dana bersama itu. Namun SIPRI mencatat bahwa perjanjian tersebut sama sekali tidak memuat ketentuan soal nasib aset berharga yang sudah lebih dulu diambil alih Rusia, padahal wilayah pendudukan menyimpan sebagian besar dari sumber daya yang paling menggiurkan.