PM Israel Benjamin Netanyahu. | EPA-EFE


Perdana Menteri Israel menyatakan perang melawan Iran belum selesai meski operasi militer Israel dan Amerika Serikat disebut telah melemahkan kemampuan nuklir Teheran. 

Dalam wawancara dengan program 60 Minutes milik CBS News, Netanyahu menuntut pemindahan uranium yang diperkaya tinggi dari wilayah Iran serta pembongkaran fasilitas pengayaan nuklir negara itu.

Pernyataan tersebut muncul ketika jalur diplomasi antara Washington dan Teheran mulai bergerak melalui mediasi Pakistan. Di saat yang sama, ketegangan militer di kawasan masih terus berlangsung, termasuk serangan drone Iran dan operasi udara Israel di Lebanon selatan.

Netanyahu mengatakan kampanye militer Israel dan AS telah “mencapai banyak hal” dengan menekan program nuklir Iran, jaringan proksi regional, serta kemampuan produksi rudalnya. Namun ia menegaskan masih ada target utama yang belum diselesaikan.

Menurut Netanyahu, Iran masih menyimpan uranium yang diperkaya dalam jumlah besar yang harus dikeluarkan dari negara itu. “Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada fasilitas pengayaan yang harus dibongkar,” ujarnya.

Sejumlah pemantau internasional memperkirakan Iran masih memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang mendekati tingkat kemurnian untuk senjata nuklir. Cadangan itu disebut cukup untuk memproduksi sedikitnya 10 perangkat nuklir apabila diproses lebih lanjut.

Ketika ditanya bagaimana material tersebut akan diamankan, Netanyahu menjawab singkat, “Kamu masuk, dan kamu ambil.” Ia tidak menjelaskan kemungkinan operasi militer lanjutan, tetapi menyebut kesepakatan diplomatik sebagai “cara terbaik” untuk menyelesaikan persoalan itu.

Iran pada Minggu (10/5) dilaporkan telah mengirim respons resmi terhadap proposal gencatan senjata terbaru dari AS melalui Pakistan. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, menyebut pembahasan mencakup upaya mengakhiri perang di kawasan serta jaminan tidak adanya serangan baru di masa depan.

Pakistan dalam beberapa pekan terakhir menjadi perantara utama komunikasi Washington dan Teheran setelah menjadi tuan rumah pembicaraan langsung di Islamabad pada awal konflik. Proposal AS disebut berbentuk memorandum 14 poin yang mencakup penghentian pengayaan uranium, pelonggaran sanksi, serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Di tengah proses diplomasi itu, situasi keamanan kawasan tetap rapuh. Uni Emirat Arab menyatakan telah mencegat dua drone Iran yang mengarah ke wilayahnya. Otoritas Emirat menyebut lebih dari 2.265 drone dan 551 rudal balistik telah diluncurkan sejak perang pecah pada 28 Februari.

Militer Israel juga melancarkan serangan udara ke lebih dari sepuluh kota di Lebanon selatan pada Sabtu. Sedikitnya 24 orang dilaporkan tewas meski sebelumnya telah berlaku gencatan senjata dengan Hizbullah yang didukung Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC turut memperingatkan bahwa rudal dan drone mereka telah mengunci target-target AS dan siap digunakan apabila pasukan Amerika kembali menyerang kapal Iran di Selat Hormuz.