Citra satelit Sentinal-2 yang diproses dan disempurnakan Maps4Media menunjukkan pemandangan luas Selat Hormuz antara Iran selatan dan Semenanjung Musandam Oman. Maps4Media

Iran meluncurkan platform asuransi maritim digital bernama Hormuz Safe, yang memungkinkan kapal-kapal membeli perlindungan berbasis blockchain untuk melintas di Selat Hormuz. Langkah ini memperkuat upaya Tehran untuk melembagakan kendali atas jalur pelayaran tersebut di tengah krisis yang terus memanas dengan Amerika Serikat dan Israel.

Platform yang dikembangkan di bawah Kementerian Ekonomi Iran ini menerbitkan polis asuransi maritim dan sertifikat kewajiban keuangan untuk kargo yang melintas di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan perairan sekitarnya, menurut Fars News yang berafiliasi dengan IRGC. 

Pembayaran dapat dilakukan menggunakan Bitcoin dan mata uang kripto lainnya, dengan penyelesaian berbasis blockchain yang dirancang untuk menghindari sistem keuangan tradisional yang rentan terhadap sanksi AS.

Sumber-sumber industri pelayaran menyebut platform ini sebagai mekanisme resmi bagi Iran untuk memungut pendapatan dari operator yang bersedia melintasi perairan di bawah kendalinya. 

Para pengkritik melihatnya sebagai skema perlindungan berpotensi ancaman, dengan memperingatkan bahwa kapal-kapal mungkin akan ditekan untuk membayar Iran demi jaminan keselamatan di jalur yang ikut didestabilisasi oleh Iran sendiri.

Hormuz Safe bukan berdiri sendiri. Iran secara resmi meluncurkan Persian Gulf Strait Authority pada 5 Mei, yang mewajibkan kapal-kapal mengajukan permohonan terperinci dan membayar biaya sebelum melintas. 

NPR melaporkan pada 14 Mei bahwa seluruh aktivitas maritim di selat tersebut kini secara resmi diawasi oleh Iran, dengan kapal diwajibkan meminta otorisasi dari otoritas baru ini, dimulai dengan mengirimkan email kepada Korps Garda Revolusi Islam.

Ebrahim Azizi, kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, menyatakan mekanisme tol yang lebih terperinci akan segera diumumkan. Rancangan undang-undang di Parlemen akan mewajibkan biaya transit dalam kerangka yang oleh para anggota parlemen digambarkan sebagai penguatan "kedaulatan, kendali, dan pengawasan" Tehran atas jalur pelayaran tersebut.

Semua ini berlangsung di tengah kondisi yang sudah jauh dari normal. Lalu lintas melalui Selat Hormuz anjlok sekitar 95% sejak serangan udara AS-Israel terhadap target-target Iran yang dimulai pada 28 Februari, menurut World Economic Forum. Hampir 3.000 kapal dilaporkan menunggu untuk melintas berdasarkan data S&P Global Market Intelligence.

Perusahaan asuransi besar Barat telah menangguhkan atau menyesuaikan pertanggungan risiko perang, dengan premi yang dalam beberapa kasus melonjak lebih dari 1.000%. Lloyd's of London memperluas penetapan "risiko tinggi" untuk mencakup seluruh Teluk Persia.

Pemerintahan Trump merespons lebih awal dengan mengarahkan U.S. International Development Finance Corporation membentuk fasilitas reasuransi hingga US$40 miliar. 

Pada April lalu, Presiden Trump memerintahkan Angkatan Laut untuk menyita kapal mana pun yang telah membayar biaya transit Iran, langkah yang semakin memperumit posisi hukum para pemilik kapal. Belum ada respons resmi dari Gedung Putih atau Pentagon terkait Hormuz Safe secara khusus.