Presiden Donald J. Trump mengikuti jamuan teh bilateral dengan Presiden Xi Jinping dari Republik Rakyat Tiongkok, Kamis, Jumat, 15 Mei 2026, di Zhongnanhai, Beijing, Tiongkok. | DANIEL TOROK/WHITE HOUSE

Ketika Donald Trump merampungkan kunjungan kenegaraan dua hari ke Beijing pekan ini, sejumlah sekutu terdekatnya di Washington justru sedang sibuk membangun jembatan sendiri ke Beijing tanpa menunggu sinyal dari Gedung Putih.

Tren itu kini menjadi sorotan para analis kebijakan luar negeri. Council on Foreign Relations dalam analisisnya yang diterbitkan 14 Mei oleh Clara Fong mencatat bagaimana Kanada, Inggris, Prancis, Korea Selatan, dan Australia bergerak mendiversifikasi kemitraan ekonomi mereka dengan China di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

Di saat yang sama, Trump dan Presiden Xi Jinping menggelar perundingan yang mencakup isu perdagangan, Iran, Taiwan, hingga pembelian energi.

Gerak paling mencolok datang dari Kanada. Januari lalu, Perdana Menteri Mark Carney terbang ke Beijing dan pulang membawa kesepakatan yang dinilai analis sebagai pembalikan kebijakan yang tajam. 

Ottawa membuka pintu bagi hingga 49.000 kendaraan listrik China dengan tarif 6,1% per tahun, turun drastis dari surtarif 100% yang diberlakukan seiring langkah Washington pada 2024. China membalas dengan memangkas tarif biji kanola Kanada dari sekitar 85% menjadi sekitar 15%. Kanada juga memasang target: ekspor ke China naik 50% sebelum 2030.

Oxford Economics menyebut kesepakatan itu sebagai "pergeseran signifikan" dalam kebijakan perdagangan Kanada yang bertujuan mengurangi ketergantungan dari AS.

Beberapa hari berselang, giliran Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang mendarat di Beijing. Ia pulang membawa pengurangan tarif China atas wiski Scotch dari 10% menjadi 5%, sebuah perjanjian yang dinilai pemerintah Inggris bernilai £250 juta selama lima tahun.

Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan kunjungan keempatnya ke China pada Desember 2025, dengan fokus pada penyeimbangan perdagangan dan dialog strategis menjelang kepresidenan Prancis di G7. 

Di Asia Timur, Korea Selatan, China, dan Jepang menggelar dialog ekonomi trilateral pertama mereka dalam lima tahun pada Maret 2025, menyepakati upaya menjalin perjanjian perdagangan bebas regional. Konteksnya tak bisa diabaikan: Trump mengancam menaikkan kembali tarif atas ekspor Korea Selatan hingga 25%.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyusul dengan kunjungan ke China pada akhir April, bagian dari upaya Canberra yang terus berlanjut untuk menstabilkan hubungan dengan mitra dagang terbesarnya.

Para analis sepakat ini bukan realinyasi menyeluruh. European Council on Foreign Relations mencatat bahwa Eropa dan Korea Selatan sama-sama menghadapi "godaan untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan Beijing" sebagai hedge terhadap kebijakan Amerika yang sulit diprediksi.

Presiden CFR Michael Froman menulis di media sosial pekan ini bahwa pertemuan Trump-Xi "bertujuan menjaga stabilitas, bukan menyelesaikan kekhawatiran yang belum terpecahkan." Ia menambahkan bahwa Beijing telah memanfaatkan periode détente yang relatif ini untuk "mengonsolidasikan otonomi teknologi."

Tantangan bagi Washington, tulis Froman, adalah bahwa sekutu-sekutunya sendiri tampaknya sampai pada kesimpulan yang sama dan bertindak sesuai dengan itu.