Jenderal Mohsen Rezaee, mantan Komandan Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan tokoh politik senior Iran. | PRESSTV

Pejabat militer senior Iran melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat pada Minggu (17/5), memperingatkan bahwa Teluk Oman bisa berubah menjadi "kuburan" bagi kapal-kapal perang AS jika blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tidak segera diakhiri.

Ancaman itu disampaikan Mayjen Mohsen Rezaei, anggota Dewan Kebijaksanaan Kemashlahatan sekaligus mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam, melalui televisi pemerintah Iran. 

"Saran saya kepada AS secara militer adalah mundur sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal kalian," ujar Rezaei sebagaimana dikutip Anadolu Agency. "Pemahaman kami adalah bahwa blokade angkatan laut merupakan tindakan perang, dan meresponsnya adalah hak kami yang sewajarnya."

Pernyataan Rezaei muncul di tengah kebuntuan yang kian mengeras. AS memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April, menargetkan kapal-kapal yang masuk atau keluar dari kawasan pesisir Iran, meski tetap mengizinkan transit menuju pelabuhan di negara lain. 

Langkah itu diambil setelah perundingan damai antara Washington dan Teheran gagal, dalam konteks konflik yang bermula akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran.

Wilayah yang menjadi ajang ketegangan ini bukan sembarang jalur. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima ekspor minyak global dan 20% gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya.

Teheran juga menyampaikan sinyal berbeda lewat jalur diplomatik. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan pekan lalu di sela Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di New Delhi bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal-kapal dagang, dengan syarat mereka berkoordinasi terlebih dahulu dengan angkatan laut Iran sebelum melintas.

Pernyataan itu mencerminkan dua pesan sekaligus yang ingin disampaikan Teheran: tidak secara resmi menutup selat bagi lalu lintas netral, tetapi tetap menegaskan kendali operasional atas perairan tersebut. 

Para pejabat militer Iran dilaporkan juga memperluas tafsir mereka soal zona operasional Selat Hormuz, mengklaim kewenangan pemantauan yang jauh melampaui jalur pelayaran tradisional.

Washington bergeming. AS menyatakan blokadenya akan dipertahankan dengan "kekuatan penuh" hingga kesepakatan damai resmi ditandatangani. Presiden Donald Trump akhir pekan lalu juga memperingatkan bahwa aksi militer bisa kembali dilancarkan jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.