![]() |
| Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia. |
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menghadap DPR pada Senin (18/5) di tengah tekanan nilai tukar yang kian berat. Di hadapan para anggota parlemen, ia menegaskan cadangan devisa negara masih lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas rupiah, meski angkanya terus menyusut sejak awal tahun.
Cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,2 miliar pada akhir April 2026, turun dari US$154,6 miliar pada akhir Januari. Penurunan sekitar US$8,4 miliar dalam empat bulan itu membawa posisi cadangan ke level terendah sejak Juli 2024, dengan total penurunan sepanjang tahun yang telah melampaui US$10 miliar. Penyusutan ini mencerminkan besarnya intervensi yang dilakukan BI untuk menahan laju pelemahan rupiah.
Rupiah sendiri menyentuh rekor terendah sepanjang sejarah di 17.500 per dolar AS pada 12 Mei, sebelum melemah lebih jauh ke kisaran 17.716 per dolar. Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari arus keluar modal, ketegangan di Timur Tengah, hingga tingginya suku bunga Amerika Serikat yang membuat dolar tetap kuat.
Strategi berlapis
Warjiyo menjelaskan bahwa intervensi BI tidak bertumpu pada penjualan valuta asing tunai secara langsung, melainkan lebih mengandalkan instrumen swap dan hedging.
Strategi ini sudah mendapat restu Presiden Prabowo Subianto dan dijalankan secara berlapis, mencakup intervensi di pasar spot, non-deliverable forward domestik maupun luar negeri, serta pembelian obligasi pemerintah senilai Rp123,1 triliun dari pasar sekunder.
BI juga memperketat batas pembelian dolar oleh individu, yang baru-baru ini dipangkas dari US$50.000 menjadi US$25.000 per orang per bulan.
Pada level April, cadangan devisa masih setara 5,8 bulan impor, jauh melampaui ambang kecukupan internasional tiga bulan. Meski begitu, para analis memperingatkan bahwa penurunan yang terus berlanjut bisa memantik risiko penurunan peringkat kredit.
Tekanan politik
Rapat dengan parlemen berlangsung dalam suasana yang tidak sepenuhnya kondusif. Sepekan sebelumnya, anggota DPR Primus Yustisio secara terbuka menuntut Warjiyo mundur akibat krisis nilai tukar ini.
Warjiyo tetap optimistis. Ia meyakini rupiah akan pulih pada Juli atau Agustus seiring meredanya permintaan musiman atas valuta asing. Deputi Gubernur Destry Damayanti pun sependapat. "Tekanan yang terjadi bersifat musiman dan akan segera mereda," kata Destry.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut gejolak pasar yang terjadi sebagai "kepanikan psikologis jangka pendek" dan mengumumkan pemerintah akan menambah pembelian saham dan surat utang melalui Dana Stabilisasi Obligasi.

0Komentar