![]() |
| Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi berjalan melewati pasukan kehormatan saat upacara penyambutan di sebuah bandara di Beijing, China, 19 Mei 2026. | SPUTNIK |
Vladimir Putin tiba di Beijing pada Selasa (19/5) malam untuk menghadiri KTT dua hari bersama Presiden China Xi Jinping yang berlangsung hari ini. Kunjungan ini datang kurang dari sepekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan perjalanannya sendiri ke ibu kota China, dan langsung memantik pertanyaan soal seberapa kokoh kemitraan Moskwa-Beijing sesungguhnya.
KTT ini sekaligus menandai peringatan ke-25 Perjanjian Bertetangga Baik dan Kerja Sama Persahabatan yang ditandatangani kedua negara pada 2001. Ini merupakan kunjungan Putin yang ke-25 ke China, sekaligus pertemuan keduanya dengan Xi dalam waktu kurang dari setahun.
Sebelum KTT berlangsung, sebuah laporan Financial Times memantik polemik diplomatik tersendiri. Media itu melaporkan bahwa Xi menyampaikan kepada Trump dalam pertemuan mereka pada 15 Mei di Beijing bahwa Putin mungkin akan "menyesali" keputusannya menginvasi Ukraina. Jika benar, itu akan menjadi penilaian Xi paling blak-blakan sejauh ini terhadap perang yang dilancarkan Rusia.
Beijing langsung menampiknya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut laporan tersebut "sama sekali tidak benar." Trump pun ikut membantah, memberitahu wartawan di Gedung Putih bahwa Xi "tidak pernah mengatakan hal itu."
Kremlin menyatakan kedua pemimpin akan membahas kerja sama ekonomi dan isu-isu internasional dan regional yang krusial. Sektor energi dipastikan mendominasi pembicaraan.
Putin sudah mengisyaratkan optimisme sebelum berangkat. Pada 9 Mei, ia menyatakan bahwa kedua pihak telah "mencapai tingkat konsensus yang tinggi" dalam kerja sama minyak dan gas.
Sorotan terbesar tertuju pada proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang selama ini tersendat. Rute yang diusulkan sepanjang 2.600 kilometer itu akan mengalirkan hingga 50 miliar meter kubik gas per tahun dari Semenanjung Yamal di Rusia ke China melalui Mongolia.
Gazprom memang sudah menandatangani nota kesepahaman yang disebut “mengikat secara hukum" dengan China National Petroleum Corporation pada September 2025, tapi soal harga dan jadwal pembangunan belum ada kata sepakat. S&P Global memperkirakan pipa itu baru bisa beroperasi menjelang akhir 2031.
Di balik citra kemitraan setara yang selalu ditampilkan kedua negara, para analis melihat ketidakseimbangan yang kian nyata. Timothy Ash, rekan asosiasi di Program Rusia dan Eurasia di Chatham House, menilai pertemuan ini jauh lebih krusial bagi pihak Rusia.
"Putin lebih membutuhkan ini daripada Xi," ujar Ash. "Dengan Rusia kini berada di posisi sebagai mitra junior menyusul kemunduran di Ukraina, ia mungkin tengah mencari dukungan militer yang lebih besar dari China."
Beijing diperkirakan tetap akan memberikan dukungan diplomatik kepada Moskwa di Perserikatan Bangsa-Bangsa, bantuan ekonomi, serta teknologi serba guna untuk keperluan militer Rusia. Tapi China juga tidak ingin merusak hubungannya dengan Washington.
Saat menerima Trump, Xi sendiri menggambarkan hubungan AS-China sebagai "hubungan terpenting di dunia."

0Komentar