![]() |
| bendera nasional Republik Islam Iran. | ANADOLU AGENCY |
Iran mengajukan proposal baru dalam perundingan nuklir dengan Amerika Serikat, menawarkan pengalihan sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya miliknya ke Rusia, bukan ke AS. Tawaran ini terungkap dari bocoran rencana perdamaian Tehran yang dikirimkan kepada Pakistan selaku mediator, sebagaimana dilaporkan Al Arabiya, Senin (28/5/2036).
Proposal 14 poin itu mencakup pembekuan jangka panjang program nuklir Iran sebagai pengganti pembongkaran penuh yang selama ini dituntut Washington. Tehran juga mencabut tuntutan reparasi perang dan menggantinya dengan permintaan konsesi ekonomi, termasuk peran Oman dan Pakistan dalam pengelolaan potensi konflik di sekitar Selat Hormuz.
Rencana itu merupakan respons atas daftar lima poin Washington yang sebelumnya meminta Iran menyerahkan uranium diperkayanya langsung ke AS dan membatasi operasional hanya pada satu fasilitas nuklir.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam laporannya Mei 2025 mengonfirmasi Iran telah memiliki lebih dari 400 kilogram uranium dengan kemurnian 60%, cukup sebagai bahan baku lebih dari sepuluh senjata nuklir bila diperkaya lebih jauh.
Trump tunda opsi militer
Presiden Donald Trump pada Senin (18/5) mengumumkan pembatalan serangan militer terhadap Iran yang dijadwalkan Selasa, setelah menerima permohonan dari pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
"Saya tundanya sebentar, semoga mungkin selamanya, tapi mungkin juga hanya sebentar, karena kami telah melakukan pembicaraan yang sangat besar dengan Iran," kata Trump dalam sebuah acara di Gedung Putih, dikutip Bloomberg.
Trump menambahkan ada "peluang yang sangat besar" bagi AS untuk mencapai kesepakatan yang mencegah Tehran memiliki senjata nuklir. Meski begitu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan komandan militer senior tetap diperintahkan bersiap melancarkan "serangan penuh berskala besar" jika jalur diplomasi buntu.
Skema lama kembali muncul
Ide pengalihan uranium Iran ke Rusia sudah pernah mencuat sebelumnya. Pada Maret, *Axios* melaporkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mengusulkan skema serupa dalam percakapan telepon dengan Trump, yang saat itu menolaknya.
Pola yang sama juga sempat dibahas dalam perundingan nuklir AS-Iran lebih awal pada 2025, sebelum konflik pecah. Di bawah perjanjian JCPOA 2015, Iran bahkan pernah mengirimkan 97% cadangan uraniumnya ke Moskwa.
Yang membedakan kali ini, usulan itu datang langsung dari Tehran. Sebuah sumber Iran kepada Tasnim menyebut AS menunjukkan fleksibilitas dengan memberi ruang bagi aktivitas nuklir damai terbatas di bawah pengawasan IAEA.
Namun media pemerintah Iran tetap menegaskan hak memperkaya uranium sebagai hal yang "tidak dapat dinegosiasikan", sinyal bahwa jarak antara kedua pihak masih cukup jauh untuk dijembatani.

0Komentar