Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri pertemuan dengan CEO dan Ketua Dewan Direksi Rosseti, Andrei Ryumin, di Kremlin, Moskow, Rusia, 14 April 2026. Sputnik/Alexander Kazakov

Presiden Rusia Vladimir Putin disebut ingin mengakhiri perang di Ukraina sebelum akhir 2026, tetapi dengan syarat yang dapat dipresentasikan Kremlin sebagai kemenangan politik dan militer bagi Rusia. Klaim itu dilaporkan Bloomberg pada Kamis (21/5), mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan internal di Moskwa.

Kremlin membantah laporan tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan Putin tidak pernah menetapkan tenggat waktu untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun itu.

Menurut laporan Bloomberg, syarat yang diajukan Putin mencakup penguasaan penuh atas wilayah Donbas di Ukraina timur serta kesepakatan keamanan yang lebih luas dengan Eropa. Skema itu disebut akan secara efektif mengakui wilayah yang telah direbut Rusia selama perang.

Laporan tersebut muncul kurang dari dua pekan setelah Putin menyatakan kesediaannya bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di negara ketiga. Namun, Putin mengatakan pertemuan itu hanya akan dilakukan untuk menandatangani perjanjian akhir perang.

Saat berbicara pada 9 Mei lalu, Putin mengklaim bahwa “konflik Ukraina tengah menuju penyelesaiannya.” Peskov kemudian mengaitkan pernyataan itu dengan “kemajuan” dalam proses perdamaian dan upaya mediasi Amerika Serikat, meski tidak memberikan kerangka waktu yang jelas.

Di tengah upaya diplomasi itu, laporan Bloomberg juga menggambarkan meningkatnya kegelisahan di kalangan elite Rusia. Sejumlah pejabat senior Kremlin disebut mulai menilai perang berada dalam situasi buntu tanpa arah penyelesaian yang pasti.

Peneliti senior urusan Rusia dan Eurasia di International Institute for Strategic Studies London, Nigel Gould-Davies, mengatakan Rusia menghadapi tekanan di medan perang dan kemungkinan membutuhkan tambahan personel militer.

“Rusia hampir pasti harus melancarkan mobilisasi parsial kedua dalam 12 bulan ke depan,” kata Gould-Davies.

Dalam beberapa pekan terakhir, laporan media internasional juga menyoroti meningkatnya pengamanan pribadi Putin. Langkah itu dikaitkan dengan kekhawatiran Kremlin terhadap potensi pengkhianatan dari kalangan elite dan kebocoran informasi di dalam lingkaran kekuasaan Rusia.

Situasi berkembang di tengah intensitas manuver geopolitik yang terus meningkat. Putin diketahui bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing awal pekan ini untuk memperkuat hubungan strategis kedua negara. Pertemuan itu berlangsung beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump berkunjung ke ibu kota China tersebut.

Belarus pada 18 Mei juga memulai latihan militer penggunaan tempur senjata nuklir bersama pasukan Rusia. Peskov menggambarkan latihan itu sebagai “sinyal bagi Eropa dan NATO.”

Presiden Ukraina Zelenskyy sebelumnya mengatakan Rusia terus berupaya menarik Belarus lebih jauh ke dalam perang. Setelah menggelar rapat dengan pimpinan militer dan intelijen Ukraina pada 15 Mei, Zelenskyy menyebut pasukan pertahanan telah diminta menyiapkan berbagai skenario respons terhadap perkembangan tersebut.