Kapal selam nuklir Rusia Yuri Dolgoruky meluncurkan rudal balistik Bulava dari Laut Putih dalam latihan militer pada 24 Mei 2018. Uji coba itu menjadi peluncuran salvo empat rudal Bulava pertama yang dilakukan Rusia. | RUSSIAN DEFENSE MINISTRY PRESS SERVICE

Dinas intelijen NATO memantau aktivitas Armada Utara Rusia setelah investigasi media Jerman mengungkap dugaan pengembangan sistem rudal nuklir rahasia yang ditempatkan di dasar laut Samudra Arktik. Program itu disebut menggunakan nama sandi “Skif” dan diyakini dirancang agar mampu beroperasi tanpa terdeteksi dalam waktu lama.

Laporan yang diterbitkan penyiar publik Jerman, WDR dan NDR, pada 21 Mei menyebut sistem tersebut dikembangkan untuk menempatkan rudal berhulu ledak nuklir di dalam kontainer tertutup yang dijatuhkan dari kapal selam ke dasar laut. Sistem itu diklaim dapat diaktifkan dari jarak jauh setelah menerima sinyal peluncuran.

Pengungkapan itu muncul saat Rusia baru menyelesaikan latihan nuklir terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Latihan selama tiga hari yang berlangsung pada 19–21 Mei itu melibatkan hampir 65.000 personel militer, lebih dari 200 peluncur rudal, 140 pesawat tempur, 73 kapal perang, serta 13 kapal selam, termasuk delapan kapal selam nuklir strategis.

Kementerian Pertahanan Rusia menyebut latihan tersebut sebagai simulasi persiapan dan penggunaan kekuatan nuklir dalam menghadapi ancaman agresi. Sebagian wilayah Laut Barents juga ditutup sementara untuk pelayaran sipil dan penerbangan selama peluncuran rudal berlangsung.

Menurut investigasi media Jerman, sistem Skif dikembangkan oleh Rubin Design Bureau dan Makeyev State Rocket Center. Rudal dirancang tetap berada dalam kondisi siaga di dasar laut selama berbulan-bulan hingga menerima perintah peluncuran.

Media pemerintah Rusia sebelumnya pernah menggambarkan sistem itu sebagai respons terhadap konsep pertahanan rudal Amerika Serikat. Dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa satelit maupun sistem pertahanan anti-balistik tidak akan mampu mendeteksi senjata semacam itu sebelum diluncurkan.

Intelijen NATO kini disebut tengah menilai sejauh mana program tersebut mendekati tahap operasional. Kekhawatiran utama muncul karena sistem berbasis dasar laut dinilai lebih sulit dilacak dibanding rudal konvensional berbasis darat atau kapal selam.

Latihan nuklir Rusia tahun ini juga berkembang dari agenda awal yang diumumkan sebagai latihan nuklir taktis gabungan Rusia-Belarus. Belarus mulai menjalankan latihan kesiapan nuklirnya sendiri sejak 18 Mei dengan menguji pengerahan senjata nuklir taktis Rusia yang ditempatkan di wilayahnya.

Kementerian Pertahanan Belarus menyatakan latihan itu dilakukan untuk mengevaluasi kesiapan pengerahan amunisi nuklir di berbagai wilayah negara tersebut. Ukraina mengecam latihan gabungan itu dan menuduh Rusia mendorong proliferasi nuklir di kawasan Eropa Timur.

Ketegangan antara Rusia dan NATO juga meningkat dalam setahun terakhir. Negara-negara anggota NATO mencatat 18 pelanggaran wilayah udara Rusia sepanjang 2025, naik sekitar 200% dibanding tahun sebelumnya. Aktivitas militer itu masih berlanjut hingga 2026.

Pada April lalu, jet tempur Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris dikerahkan setelah drone Rusia terdeteksi mendekati wilayah NATO di sekitar Laut Hitam. Media Al Jazeera juga melaporkan Rusia mengirim hulu ledak nuklir ke sejumlah lokasi di Belarus sebagai bagian dari latihan militer pekan ini.