![]() |
| Petr Pavel|Photo: Zuzana Jarolímková, iROZHLAS.cz |
Presiden Ceko Petr Pavel mendesak NATO mengambil respons yang lebih agresif terhadap Rusia menyusul meningkatnya insiden keamanan di kawasan timur Eropa. Dalam wawancara dengan The Guardian yang terbit pada 22 Mei, Pavel menyebut aliansi itu berisiko terlihat pasif jika terus membiarkan provokasi Rusia terjadi tanpa respons yang tegas.
Mantan ketua komite militer NATO tersebut mengatakan langkah balasan tidak harus selalu bersifat konvensional. Ia mengusulkan sejumlah opsi yang disebutnya bisa bersifat “asimetris”, mulai dari memutus akses internet Rusia, membatasi penggunaan satelit, hingga memotong akses bank-bank Rusia dari sistem keuangan global.
“Misalnya, memutus internet atau satelit — Anda melihat apa yang dilakukan Starlink di medan perang — atau memotong bank-bank Rusia dari sistem keuangan,” kata Pavel.
Ia juga menyebut NATO perlu mempertimbangkan tindakan militer langsung terhadap pelanggaran wilayah udara aliansi, termasuk menembak jatuh pesawat Rusia yang memasuki wilayah udara NATO.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Baltik dan Eropa Timur. Rusia dan Belarus baru saja menuntaskan latihan nuklir gabungan selama tiga hari pada 21 Mei. Latihan tersebut disebut menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir dengan melibatkan sekitar 64.000 personel, rudal balistik antarbenua, kapal selam bertenaga nuklir, hingga pembom jarak jauh.
Reuters melaporkan amunisi nuklir juga dikirim ke sejumlah lokasi di Belarus sebagai bagian dari latihan tersebut.
Di saat bersamaan, negara-negara NATO di kawasan Baltik menghadapi serangkaian insiden drone yang diduga berasal dari wilayah Rusia. Pada 7 Mei, dua drone jatuh di kawasan Latgale, Latvia. Salah satunya meledak di fasilitas penyimpanan minyak di Rezekne.
Insiden itu memantik dorongan dari Latvia dan Lituania agar NATO memperkuat sistem pertahanan udara di kawasan Baltik. Negara-negara anggota di perbatasan timur juga mulai mendorong pembangunan “tembok drone” untuk meningkatkan pengawasan dan perlindungan wilayah udara mereka.
Pernyataan Pavel mencerminkan meningkatnya tekanan dari anggota NATO di Eropa Timur yang menilai respons aliansi terhadap Rusia masih terlalu hati-hati. Sejak intensitas pelanggaran wilayah udara dan aktivitas drone meningkat tahun lalu, perdebatan mengenai batas respons NATO terhadap Rusia semakin mengeras.
Usulan Pavel, mulai dari serangan siber terhadap infrastruktur Rusia hingga respons kinetik terhadap pelanggaran wilayah udara, menjadi salah satu pernyataan paling keras yang pernah disampaikan secara terbuka oleh kepala negara anggota NATO sejak perang di Ukraina memasuki fase eskalasi baru.

0Komentar