![]() |
| Presiden Prabowo Subianto. | AFP |
Rupiah menyentuh level terlemahnya dalam sejarah, mendekati Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada sesi perdagangan Jumat, 15 Mei. Namun alih-alih menenangkan publik dengan data, Presiden Prabowo Subianto justru memilih argumen yang memantik reaksi luas: masyarakat pedesaan Indonesia tidak bertransaksi dengan dolar, jadi apa yang perlu dikhawatirkan?
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5). Ia menepis kekhawatiran yang beredar luas soal tekanan nilai tukar dengan nada santai.
"Banyak yang bilang Indonesia akan kolaps karena rupiah, karena dolar — wong desa saja tidak pakai dolar," ujarnya, seperti terekam dalam video yang ditayangkan di kanal Youtube Sekretariat Presiden. Ia menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tetap "relatif stabil," terutama di sektor pangan dan energi.
Kritik datang cepat. Di media sosial, pernyataan itu dibongkar satu per satu. Para komentator mengingatkan bahwa pelemahan rupiah mengerek harga barang impor dan bahan baku industri dalam negeri, yang ujungnya mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok, termasuk di desa-desa yang dimaksud Prabowo.
Pelemahan ini bukan peristiwa tunggal. Rupiah sudah melewati Rp17.000, lalu Rp17.500, dan kini Rp17.600 dalam rentang waktu yang singkat, mencatat tren negatif tujuh minggu berturut-turut.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah menyentuh level 17.606 pada pertengahan pagi waktu Jakarta, melemah 0,44% dalam sehari, sebelum Bank Indonesia turun tangan di pasar spot, non-deliverable forward domestik, dan pasar NDF luar negeri.
Tekanan datang dari berbagai arah. Dolar AS menguat untuk sesi kelima berturut-turut seiring imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun acuan melonjak, mengutip Reuters. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz ikut mendongkrak harga minyak, yang pada gilirannya memperbesar tagihan impor Indonesia dan mendongkrak permintaan dolar.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan sekitar separuh tekanan pada rupiah bersumber dari faktor geopolitik. Ia memperingatkan Bank Indonesia kemungkinan harus menaikkan suku bunga antara 25 hingga 50 basis poin pada rapat bulan Juni untuk menstabilkan nilai tukar.
Sejumlah analis bahkan menyebut rupiah bisa menembus Rp18.000 pada akhir Mei jika tekanan eksternal tidak mereda.
Bank Indonesia mengaku tidak diam. Deputi Gubernur Destry Damayanti menyampaikan pada 12 Mei bahwa bank sentral tetap "berkomitmen untuk melakukan intervensi yang terukur" dan menilai tekanan saat ini bersifat "musiman."
Cadangan devisa Indonesia tercatat US$148,2 miliar pada akhir Maret, yang menjadi bantalan di tengah gejolak ini. Namun penurunan peringkat kredit oleh Moody's dan Fitch, ditambah keluarnya aliran modal dari bursa saham Jakarta, terus membebani sentimen pasar dan mempersempit ruang gerak kebijakan.

0Komentar