![]() |
| aktivitas penukaran mata uang dengan fokus pada tumpukan uang Rupiah Indonesia dan Dolar Amerika Serikat. |
Nilai tukar rupiah makin tertekan pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Menurut data Bloomberg, Kurs rupiah sempat menyentuh Rp17.517 per US$ pada pukul 10.20 WIB, melanjutkan pelemahan dari pembukaan di level Rp17.483 melemah 103 poin atau 0,59% dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414 per US$.
Merespons tekanan itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan pemerintah akan masuk ke pasar obligasi mulai Rabu (13/5). Langkah itu ditempuh untuk menahan kenaikan yield surat utang negara yang dinilai bisa memantik arus keluar modal asing.
"Kita akan bisa mulai membantu, besok mungkin dengan masuk ke bond market," kata Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.
Jaga Yield, cegah modal kabur
Logika intervensinya sederhana: jika yield obligasi naik terlalu tinggi, investor asing yang memegang surat utang pemerintah Indonesia akan menanggung capital loss dan terdorong keluar. Arus keluar itulah yang kemudian menekan rupiah lebih dalam.
"Kita kan masih banyak uang nganggur, kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar," jelas Purbaya.
Pemerintah berharap langkah itu cukup untuk menahan kepergian investor asing, bahkan menarik mereka kembali jika kondisi pasar membaik.
"Kita kendalikan itu supaya asing enggak keluar atau masuk malah kalau yield-nya membaik, sehingga rupiah akan menguat. (Buyback) semacam itu," tambahnya.
Purbaya juga menyinggung skema Bond Stabilization Fund (BSF), meski mengakui mekanisme itu belum berjalan penuh. "Itu yang disebut Bond Stabilization Fund kan, tapi belum fund semuanya, kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini," tuturnya.
Stabilitas kurs tetap di tangan BI
Soal penguatan rupiah secara keseluruhan, Purbaya menegaskan itu bukan ranah Kementerian Keuangan. Ia meminta publik tidak salah alamat.
"Anda mesti tanya bank sentral, jangan tanya saya. Tugas bank sentral hanya satu kan menjaga stabilitas nilai tukar, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana, di bank sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik," ujarnya.
Bayangan MSCI
Di luar faktor global, ada tekanan lain yang tak kalah diperhatikan pasar. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengingatkan bahwa pelemahan rupiah kali ini tidak bisa sepenuhnya disandarkan pada sentimen eksternal seperti tensi geopolitik Timur Tengah.
"Perlu ingat juga bahwa risiko terhadap pasar keuangan domestik kita terutama rupiah ini bukan semata-mata dipengaruhi tadi oleh faktor dari Timur Tengah," kata Josua dalam Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I-2026, Selasa.
Ia menunjuk catatan dari lembaga indeks global MSCI yang sebelumnya menyoroti sejumlah isu di pasar modal Indonesianmulai dari transparansi, struktur kepemilikan asing, jumlah saham beredar di publik, hingga potensi perubahan status pasar.
"Yang dimana memang peringatan MSCI ini terkait tadi dengan transparansi, faktor dari kepemilikan asing, jumlah saham dan juga potensi tadi perubahan status pasar yang bisa menekan persepsi dari investor global," ujar Josua.
Kekhawatiran atas evaluasi MSCI itu dinilai turut mendorong keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia dalam beberapa bulan terakhir dan menjadi salah satu beban tambahan yang kini ikut menekan rupiah.

0Komentar