![]() |
| Lockheed C-130H Hercules yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Republik Islam Iran. SHAHRAM SHARIFI/IRANIAN SPOTTERS |
Pakistan dilaporkan mengizinkan sejumlah pesawat militer Iran parkir di pangkalan udaranya selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung. Informasi itu diungkap CBS News pada Senin, mengutip pejabat AS yang mengetahui pergerakan tersebut.
Laporan itu muncul ketika Islamabad sedang memainkan peran penting sebagai mediator antara Washington dan Teheran dalam upaya menghentikan perang yang telah memasuki pekan ke-10.
Menurut pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim, Iran mengirim beberapa pesawat ke Pangkalan Udara Nur Khan di Rawalpindi beberapa hari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran pada awal April. Salah satu pesawat yang disebut berada di lokasi itu adalah RC-130 Angkatan Udara Iran, varian pengintaian dan pengumpulan intelijen dari pesawat angkut Lockheed C-130 Hercules.
Pangkalan Nur Khan merupakan instalasi strategis militer Pakistan yang berada di dekat pusat pemerintahan dan markas militer negara itu.
Iran juga disebut mengalihkan sejumlah penerbangan sipil ke Afghanistan yang berbatasan langsung dengan Pakistan. Namun, belum ada kepastian apakah pesawat militer juga ikut dipindahkan melalui jalur tersebut.
Pemerintah Pakistan membantah laporan itu. Seorang pejabat senior Pakistan mengatakan kepada CBS News bahwa keberadaan armada besar pesawat asing di Nur Khan hampir mustahil disembunyikan dari publik.
“Pangkalan Nur Khan berada tepat di jantung kota, armada besar pesawat yang diparkir di sana tidak mungkin tersembunyi dari mata publik,” kata pejabat tersebut.
Di saat bersamaan, Islamabad terus bergerak sebagai penghubung diplomatik antara AS dan Iran. Pakistan ikut membantu perundingan yang menghasilkan gencatan senjata 8 April dan sejak itu aktif menyampaikan proposal dari kedua pihak, termasuk pembahasan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif pada Minggu mengatakan Marsekal Lapangan Asim Munir telah menyampaikan kepadanya bahwa Pakistan menerima respons resmi Iran terhadap proposal perdamaian AS yang terdiri dari 14 poin. Respons itu kemudian diteruskan ke Washington.
Menurut pejabat Pakistan, Iran meminta kompensasi perang, pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz, pencabutan sanksi, serta pembebasan aset yang dibekukan.
Trump menolak tuntutan tersebut dan menyebut proposal Iran “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA” dalam unggahan di media sosial.
Situasi itu menempatkan Pakistan dalam posisi yang rumit. Negara itu selama beberapa tahun terakhir semakin dekat dengan China, yang kini menjadi pemasok utama persenjataan Islamabad. Data Stockholm International Peace Research Institute menunjukkan sekitar 80% impor senjata utama Pakistan pada 2020–2024 berasal dari China.
Beijing sendiri mendukung upaya mediasi Pakistan dan tetap menjadi salah satu sekutu internasional utama Iran di tengah konflik dengan AS.
Ketegangan di kawasan juga belum mereda. Trump pada Senin mengatakan peluang bertahannya gencatan senjata kini hanya “sekitar satu persen” dan menyebut proses tersebut berada dalam kondisi “sekarat berat”.
Bentrokan kecil masih dilaporkan terjadi di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Reuters melaporkan Uni Emirat Arab mengaku kembali menjadi sasaran serangan drone Iran.

0Komentar