Kapal penanggulangan ranjau kelas Avenger USS Devastator, USS Gladiator, USS Sentry, dan USS Dextrous bermanuver di Laut Arab pada Juli 2019. (ANTONIO GEMMA MORÉ/U.S. NAVY)

Militer Amerika Serikat melanjutkan operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz pada Senin (11/5), sementara upaya diplomatik untuk mengakhiri perang dengan Iran kian mandek setelah Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah proposal perdamaian terbaru Teheran.

Menteri Energi Chris Wright membenarkan operasi itu berlangsung. "Militer sedang aktif membersihkan selat hari ini," katanya dalam program Face the Nation pada Minggu. 

Meski demikian, misi pengawalan yang lebih luas dikenal sebagai Project Freedom masih dalam jeda setelah dihentikan pekan lalu, hanya 48 jam setelah diluncurkan. Selama operasi singkat itu, hanya dua kapal berbendera AS yang berhasil dikawal keluar dari Teluk Persia.

Wright menyebut jeda itu terjadi atas permintaan Iran, setelah Teheran mengisyaratkan kesediaan untuk bernegosiasi.

Dua proposal, tanpa titik temu

Iran mengajukan balasan 14 poin melalui mediator Pakistan sebagai respons atas kerangka sembilan poin yang ditawarkan Washington. Teheran menuntut pengakhiran perang dalam 30 hari, pencabutan sanksi, pembebasan aset yang dibekukan, pembayaran reparasi, hingga pembentukan kerangka regulasi baru untuk Selat Hormuz. 

Menurut individu yang mengetahui isi proposal tersebut, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal, Iran juga menuntut "pembukaan bertahap" selat dan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Trump merespons cepat. Pada Sabtu, ia memposting di Truth Social bahwa ia telah membaca balasan Iran dan "tidak menyukainya" — menyebutnya "sama sekali tidak dapat diterima."

Penolakan itu menyusul kegagalan pembicaraan maraton 21 jam di Islamabad pada April lalu. Wakil Presiden JD Vance kala itu terang-terangan menyorot titik buntu utama. 

"Apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir — bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun ke depan, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihat itu," ujar Vance.

Selat Hormuz masih lumpuh

Di lapangan, situasi jauh dari pulih. Sekitar 1.600 kapal dagang masih terdampar di dalam dan sekitar Teluk Persia. Badan Energi Internasional menyebut kondisi ini sebagai "gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah" wajar, mengingat sekitar 20% minyak dan gas dunia melewati jalur ini.

Pentagon memperkirakan pembersihan ranjau Iran dari selat bisa memakan waktu hingga enam bulan. Selama operasi pengawalan singkat pada 4 Mei, pasukan AS menenggelamkan enam kapal kecil Iran dan mencegat rudal jelajah serta drone, menurut Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper. Iran membantah versi itu, mengklaim pasukan Amerika menyerang kapal penumpang sipil yang berlayar antara Oman dan Iran, menewaskan lima orang.

Iran kini membentuk lembaga yang mereka sebut Otoritas Selat Teluk Persia untuk mengawasi navigasi dan memungut biaya dari kapal yang melintas. AS memperingatkan perusahaan pelayaran bahwa mereka bisa dikenai sanksi jika membayar pungutan itu.