Perang di Ukraina terus meningkat intensitasnya. Direktur Departemen Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian PBB, Kayoko Gotoh, menyampaikan kepada Dewan Keamanan pada Selasa bahwa konflik ini "semakin mematikan dari hari ke hari."
Peringatan itu datang tak lama setelah salah satu serangan udara terbesar sejak invasi skala penuh Rusia menghantam sejumlah kota di Ukraina.
Antara 13 hingga 14 Mei, Rusia meluncurkan lebih dari 1.500 drone dan puluhan rudal ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan paling mematikan terjadi pada 14 Mei ketika sebuah rudal meratakan gedung apartemen berlantai sembilan di Kyiv, menewaskan 24 orang dan melukai sedikitnya 48 lainnya.
Data yang diverifikasi Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB mencatat April 2026 sebagai bulan dengan korban sipil tertinggi sejak Juli 2025, dengan sedikitnya 238 warga sipil tewas dan 1.404 lainnya terluka. Gotoh menyebut angka ini sebagai "pola berkelanjutan dari meningkatnya dampak buruk terhadap warga sipil."
Ukraina pun tak lepas dari sorotan. Serangan Kyiv ke dalam wilayah Rusia juga memakan korban sipil yang makin bertambah, termasuk empat orang yang dilaporkan tewas pada hari Minggu dan empat lainnya dalam serangan di Ryazan pada 15 Mei.
"Kami mengecam keras semua serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil, di mana pun serangan itu terjadi," ujar Gotoh.
Di tengah eskalasi itu, kondisi kemanusiaan di lapangan juga memburuk. Edem Wosornu, Direktur Divisi Respons Krisis Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) PBB, melaporkan dua konvoi PBB yang ditandai jelas ditembaki pada 12 dan 14 Mei.
Tiga pekerja kemanusiaan tewas dan 10 lainnya terluka hanya dalam empat bulan pertama 2026. Dari rencana pendanaan kemanusiaan senilai US$2,3 miliar untuk Ukraina, baru US$845 juta yang terpenuhi.
Gencatan senjata tiga hari antara Kyiv dan Moskwa yang difasilitasi Amerika Serikat pada 9 hingga 11 Mei sempat memberi secercah harapan. Namun PBB menyatakan menyesali "laporan pelanggaran dari kedua pihak" selama gencatan berlangsung, dan "sangat terganggu oleh eskalasi serangan Federasi Rusia yang terjadi hampir segera setelah berakhirnya gencatan senjata tersebut."
Pertukaran 2.000 tahanan perang telah diumumkan. Langkah pertama dilakukan pada 15 Mei, di mana masing-masing pihak mengembalikan 205 tahanan. Gotoh menyerukan agar negosiasi langsung yang kini terhenti dapat dilanjutkan "tanpa penundaan lebih lanjut."
Dalam sesi yang sama, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, mengklaim Ukraina berencana meluncurkan drone militer dari Latvia dan negara-negara Baltik lainnya, seraya memperingatkan akan ada pembalasan terhadap Latvia yang bergabung sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan sejak Januari 2026. Ancaman itu langsung memantik kecaman keras dari delegasi AS di Dewan.

0Komentar