Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. | REUTERS/SERGEI BOBYLEV

Beijing memainkan dua papan catur sekaligus. Tepat di hari Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu resmi dengan Presiden Xi Jinping, Kementerian Perdagangan China mengonfirmasi kesepakatan pembelian 200 pesawat Boeing lengkap dengan mesin dan suku cadangnya, mengakhiri pembekuan penjualan besar-besaran ke maskapai China yang sudah berlangsung hampir satu dekade.

Kesepakatan itu lahir dari pertemuan puncak Xi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing sepekan sebelumnya. 

Di atas Air Force One, Trump menyebut pesanan itu mencakup "sekitar 200 pesawat dengan komitmen hingga 750 unit jika kinerjanya memuaskan." CEO Boeing Kelly Ortberg turut hadir dalam delegasi bisnis AS yang mendampingi Trump ke Beijing. 

Pesawat-pesawat tersebut akan dilengkapi mesin dari GE Aerospace, dengan nilai pesanan 200 unit diperkirakan antara US$17—19 miliar menurut firma intelijen penerbangan IBA.

Putin tiba di Beijing, Selasa malam, untuk kunjungan kenegaraan dua hari — perjalanannya yang ke-25 ke China. Agenda mencakup pembicaraan resmi, penandatanganan sekitar 40 dokumen bilateral, hingga sesi minum teh antara kedua pemimpin.

Dalam pidato video yang dirilis menjelang kunjungan, Putin menggambarkan hubungan kedua negara sebagai kekuatan "penstabil" di panggung global. Ia menyatakan relasi bilateral telah mencapai tingkat yang belum pernah ada sebelumnya, dengan kedua pihak saling mendukung dalam isu-isu "kedaulatan dan persatuan nasional."

Putin juga mengundang Xi untuk berkunjung ke Rusia, meski belum ada tanggal yang diumumkan. Kremlin sebelumnya memberi sinyal adanya "ekspektasi serius" terhadap kunjungan ini. salah satu agenda yang diperkirakan dibahas adalah proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang telah lama tertunda, penghubung pasokan gas Rusia ke kawasan utara China.

Pertemuan ini sekaligus menandai peringatan ke-25 Perjanjian Persahabatan Sino-Rusia yang ditandatangani pada 2001. Sebuah pernyataan bersama sekitar 47 halaman yang mendukung "tatanan multipolar" diperkirakan dirilis bersamaan dengan sejumlah perjanjian bilateral.

Timing konfirmasi Boeing bukan tanpa pesan. Dengan mengumumkannya tepat di hari pertemuan Putin—Xi berlangsung, Beijing memberi sinyal yang cukup gamblang bahwa keterlibatan ekonomi dengan Washington tetap berjalan, seiring kemitraan yang terus menguat dengan Moskwa.

Dua kunjungan kepala negara besar dalam rentang waktu berdekatan mencerminkan posisi yang ingin dimainkan Beijing sebagai poros yang tak memilih kubu, tapi tak bisa diabaikan oleh siapa pun.