![]() |
| Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat (UNOCHA), memberi pengarahan kepada wartawan di Markas Besar PBB. UN PHOTO/ |
Pejabat kemanusiaan tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut biaya perang yang dikeluarkan Amerika Serikat di Iran setara dengan kebutuhan pendanaan bantuan global yang belum terpenuhi tahun ini. Dana sebesar US$25 miliar, menurut PBB, dapat digunakan untuk menjangkau puluhan juta orang yang membutuhkan bantuan penyelamat jiwa.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, mengungkapkan perbandingan tersebut saat berada di Mogadishu, Somalia. Ia merujuk pada estimasi Pentagon bahwa operasi militer yang dimulai sejak akhir Februari telah menghabiskan sekitar US$25 miliar, terutama untuk kebutuhan amunisi.
Dalam konteks itu, Fletcher menyoroti kesenjangan pendanaan kemanusiaan global yang kian melebar. PBB sebelumnya mengajukan kebutuhan dana US$23 miliar untuk rencana bantuan tahun 2026, namun realisasinya baru mencapai sekitar 28%. Di tengah keterbatasan tersebut, lembaga itu terpaksa memprioritaskan sekitar 87 juta orang dari total lebih 300 juta penduduk dunia yang membutuhkan bantuan mendesak.
Fletcher, yang menyaksikan langsung kondisi di Somalia, menggambarkan bagaimana konflik turut memperburuk krisis yang sudah ada. Penutupan jalur energi utama seperti Selat Hormuz disebut memicu lonjakan harga pangan dan bahan bakar di Afrika Timur dan sub-Sahara, wilayah yang sebelumnya telah terdampak kemiskinan, konflik, dan tekanan perubahan iklim.
"Dengan US$25 miliar, kami bisa memberikan bantuan penyelamat jiwa kepada 87 juta orang," ujar Fletcher.
Ia juga menyinggung bahwa kebutuhan pendanaan tersebut sebenarnya dapat dipenuhi dalam waktu singkat di awal konflik. "Kita bisa saja membiayai inisiatif itu dalam waktu kurang dari dua minggu sejak konflik ini dimulai. Dan sekarang, tentu saja, kita tidak bisa melakukannya," katanya.
Di Washington, pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya mengucurkan sekitar US$2 miliar untuk bantuan kemanusiaan pada Desember. Namun, proposal anggaran terbaru justru mengindikasikan pemangkasan untuk program bantuan luar negeri dan kesehatan global.
Perang yang sama juga mulai menggeser arah kebijakan energi global. Kepala iklim PBB, Simon Stiell, mengatakan konflik tersebut secara tidak langsung mempercepat transisi menuju energi terbarukan.
Berbicara dalam forum bersama UNFCCC dan International Energy Agency di Paris, Stiell menilai ketergantungan pada bahan bakar fosil justru menjadi semakin dipertanyakan setelah lonjakan harga energi dalam dua bulan terakhir.
"Mereka yang selama ini berjuang keras agar dunia tetap bergantung pada bahan bakar fosil, tanpa sadar justru sedang mempercepat ledakan energi terbarukan global," ujar Stiell.
Ia mencatat peningkatan signifikan pada pembangkitan energi surya global, yang naik hingga 600 terawatt-jam tahun lalu. Sejumlah negara seperti Prancis, China, India, dan Jerman kini mempercepat pengembangan energi bersih untuk memperkuat ketahanan energi mereka.
Namun, tekanan terhadap rantai pasok energi juga merembet ke sektor pangan. Kelangkaan pupuk akibat gangguan distribusi disebut menempatkan sekitar 45 juta orang dalam risiko kelaparan akut.

0Komentar